Minggu, 23 Juli 2017

Nabi Hud dan Angin Panas bagi Kaum Ad

Nabi Hud adalah utusan Allah yang dikirim kepada kaum 'Ad yang mendiami daerah Al Ahqaf. Menurut para ahli sejarah, daerah Al Ahqaf itu letaknya diantara Yaman dan Amman (Yordania) sampai Hadramaut dan Asy Syajar. Allah mengutus Hud pada satu kabilah besar bangsa ‘Amaliq (suku bangsa yang tinggal di sebelah utara Palestina kuno-terj) yang disebut dengan kabilah atau kaum ‘Ad. Berkenaan dengan kaum ‘Ad al-Qur’an menuturkan:
Kaum ‘Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka berkata: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa?” (Qs. As-Syu’ara’: 123-124)
Kaum ‘Ad adalah salah satu kabilah Arab yang telah punah, keturunan dari Sam bin Nuh. Kaum ini dinamakan dengan ‘Ad sebab dinisbatkan pada salah seorang kakek mereka, yaitu ‘Ad bin ‘Iwadh bin Arim bin Sam.
Sebenarnya 'Ad adalah nama seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan kuat. Tingginya sampai seratus hasta. Saking gedenya, kepalanya terlihat seperti kubah dan kedua matanya bagai pintu dua buah kota. Ad dan anak cucunya membangun sebuah kota dengan tiang-tiang yang kokoh, diberi nama Iram.
            Kaum 'Ad membentuk keluarga dan membuat ciri biar ketahuan jelas keluarga 'Ad-nya. Soalnya mereka bangga banget dengan silsilahnya. Tanda itu ada di dahi dan ubun-ubun. Mereka terkenal bukan hanya karena kekuatan fisik, tapi juga karena kecerdasannya. Sayang banget mereka malah kufur dan suka menyembah berhala. Berhala yang mereka sembah ada tiga yaitu: Shada', Shamud, dan Al Haba'.
            Nabi Hud juga termasuk kaum 'Ad dan berasal dari keluarga terhormat. Secara fisik dan intelektual ia juga memiliki ciri-ciri istimewa kaum 'Ad. Namun wajahnya ramah dan ceria.
Silsilah Nabi Hud
Dia adalah Hud AS putra Abdullah bin Rabbah bin al-Khulud bin ‘Ad, kakek buyut kaumnya. Nasab beliau bersambung hingga ke Sam bin Nuh AS. Nasab ini berdasarkan keterangan yang dipilih oleh Ibnu Jarir. Ibnu Ishaq menyebutkan nasab keturunan Hud yang berbeda dengan nasab di atas.
            Pekerjaan kaum 'Ad adalah petani pengolah tanah yang ulet. Nggak heran tanahnya jadi subur sekali. Mereka jadi kaya raya dan makmur. Mereka gemar membangun gedung-gedung mewah di kota. Oleh Allah mereka dikaruniai harta benda dan kemewahan dunia.
Fisik kaum ‘Ad sangat kuat dan tempat tinggal mereka sangat besar dan kuat. Jika mereka berjalan, tanah yang ada di bawah telapak mereka akan bergetar karena menyangga bobot mereka yang berat. Mereka ibarat gunung karena saking tinggi dan besarnya. Namun, mereka tertipu oleh kekuatan tersebut dan sombong kepada Allah.
            Sayang banget mereka jadi sombong dan belagu. Boro-bor mau bersyukur. Sukanya saling menyombongkan diri, suka saling memfitnah, dan menurutkan hawa nafsu. Mereka juga hobi banget berantem.
            Yang nyebelin lagi, mereka malah menyembah berhala yang mereka anggap sebagai perantara Tuhan, katanya sih bisa memberi syafaat/pertolongan ke mereka. Nama berhalanya Shada, Shamud, dan Al Haba.
            Nabi Hud tidak bosan berdakwah kepada mereka. Tapi pemimpin-pemimpin mereka malah mencela dan menghina Nabi Hud dengan kata-kata kasar dan tidak sopan. Mereka tetap nggak percaya kalau Nabi Hud itu nabi beneran!
            Allah kemudian menurunkan azab awalan kepada kaum 'Ad. Daerah mereka yang tadinya subur, banyak hujan, sekarang tandus. Allah memberhentikan hujan selama 3 tahun. Huaaa... kering banget kan?
            Dasar mereka memang wataknya keras dan sombong. Sudah ditimpa musibah begitu, mereka tetap saja nggak beriman. Meski Nabi Hud juga tetap gigih menyeru.
Mereka mengirimkan utusan dipimpin Qil bin 'Anzah untuk meminta hujan ke tanah Haram. Di tengah jalan mereka ketemu seseorang bernama Mu'awiyah bin Bakar.
            Dasar dodol, mereka malah berpesta minuman keras dan menonton tarian syahwat dari budak-budak perempuan. Qil bin 'Anzah lah yang pertama ingat misi mereka sebenarnya.
            Di perjalanan, Qil bin 'Anzah melihat tiga gumpalan awan. Warnanya ada yang putih, merah, dan hitam. Tiba-tiba terdengar suara dari langit, "Kamu pilih awan yang mana?"
            Qil yakin kalau awan hitam itu berisi mendung yang akan menghasilkan hujan. Maka dengan pedenya dia memilih awan hitam.
            Awan hitam itu sampai di Iram. Ada seorang perempuan yang pertama melihatnya, malah berteriak keras sampai pingsan. Ia bilang, "Aku lihat angin yang bertiup kayak bola api yang dikawal beberapa laki-laki!"
            Kaum 'Ad mengira itulah awan hujan. Mereka nggak percaya perkataan Nabi Hud kalau itu azab Allah.
            Allah mengirim awan yang sangat tebal dari langit. Tatkala kaum ‘Ad melihat awan itu mereka senang dan bergembira, dan mengira akan turun hujan lebat. Mereka menyangka Allah telah melimpahkan rahmat-Nya dan mengabulkan permohonannya. Ketika awan tersebut menjadi gelap, mereka melihat awan itu sangat hitam legam, lalu angin menerpa mereka .
Benar juga. Angin keluar semakin kencang dari awan hitam itu, berupa halaqih yaitu angin yang dingiiiin sekali dan sama sekali nggak bawa hujan.
            Angin dingin itu mematikan. Ibaratnya orang masuk ke guapun, angin itu akan tetap nguber orang itu sampai membunuhnya.

Finally, Allah mengazab kaum 'Ad dengan azab yang lebih pedih. Ditiupkan angin kencang yang panas selama delapan hari tujuh malam. Saking panasnya, angin itu bisa membakar manusia! Kaum kafir itu semua binasa. Mayat-mayat beterbangan dan bergelimpangan di tanah yang tadinya subur makmur itu.
            Akan halnya Nabi Hud dan kaumnya sebelumnya telah diam-diam meninggalkan daerah itu. Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa Nabi Hud menjauhi kaumnya yang kafir dan menetap di Mekkah hingga wafat dan dimakamkan di sana.
            Allah memerintahkan Nabi Hud dan orang-orang yang beriman untuk menyelamatkan diri melewati sebuah dermaga. Ajaib sekali, ketika mendekati dermaga tersebut, angin berubah menjadi lembut dan sejuk.
            Nabi Hud dan orang-orang mukmin berhasil meninggalkan Iram. Beliau hidup hingga seratus lima puluh tahun setelah kejadian itu. Beliau dimakamkan di Hadramaut.
            Beliau wafat pada usia 472 tahun. Jenazahnya dimakamkan di sebelah timur Hadramaut.

Ayat-ayat yang mengisahkan Nabi Hud as. dan kaum 'Ad:

QS Al A'raaf 65, Hud 50, Asy Syuaraa 128-135, Hud 52, Al Haqqah 6-8.

Minggu, 16 Juli 2017

Asiyah, Permata dari Istana Firaun (bagian 2)

Di tengah perjalanan, Allah swt mengangkat Musa dan saudaranya, Harun, menjadi Nabi bagi kaum Bani Israil dan kaum Firaun. Keduanya membawa perintah Allah swt untuk mengajak seluruh kaum Bani Israil dan Firaun hanya beribadah kepada Allah swt saja. Tentu saja ini tugas yang sangat berat bagi keduanya, namun keduanya harus segera melaksanakannya.
          Setelah perjalanan yang cukup jauh itu, mereka tiba di Mesir yang masih dikuasai oleh Firaun dengan sikap sombong dan zalimnya. Musa dan Harun pantang menyerah untuk melaksanakan tugas dakwah dari Allah swt tersebut. Meskipun untuk itu, mereka harus menghadapi sikap Firaun yang menjengkelkan.

          Suatu hari yang cerah, Firaun mengadakan sebuah perayaan yang tujuan sebenarnya adalah untuk menunjukkan kebesaran dan kekuasaannya, agar menggentarkan hati Musa dan Harun. Pada perayaan megah itu, tak lupa ia mengundang semua tukang sihirnya untuk menandingi ‘shir’ Musa, yang sebenarnya adalah mukjizat dari Allah swt untuk Nabi yang dipilih-Nya. Mukjizat Musa tersebut adalah tongkatnya yang bisa berubah menjadi ular.
          Dengan congkak, Firaun menantang Musa, “Mana, coba buktikan kalau engkau memang utusan Tuhanmu? Ayoo, masa engkau tak punya kehebatan sedikitpun. Mana mau kami percaya pada manusia biasa sepertimu?”
          Para tukang sihir Firaun maju ke tengah lapangan istana, mereka menyihir tongkat-tongkat mereka menjadi ratusan bahkan ribuan ular-ular kecil. Penonton menjerit-jerit dan berlarian ketakutan, terutama perempuan dan anak-anak. Dalam hati mereka yang ketakutan, mereka mengakui kehebatan Firaun dan tukang-tukang sihirnya.
          Kini tiba giliran Musa. Dengan tenang dan membaca basmalah terlebih dahulu, ia memohon pertolongan kepada Allah swt agar dimudahkan menghadapi kaum Firaun yang buta mata dan hatinya itu.
          Dengan pertolongan Allah swt…ajaib….
          Tongkat Nabi Musa seketika itu juga berubah menjadi ular yang sangat besar dan memakan semua ular-ular kecil yang bertebaran. Seluruh penonton bersorak dan berseru kagum.
          “Waah, itu ularnya hebat ya, bisa memakan semua ular kecil”, seru seorang anak.
          “Bukaan, yang hebat itu ya Musa, bukan ularnya”, sahut ibunya.
          “Ya salah semua. Yang hebat adalah Tuhannya Musa, yang memberikan kekuasaan pada Musa untuk mendatangkan ular dari tongkatnya”, sambut sang ayah.
          “Kalau begitu Firaun sih enggak ada apa-apanya ya, Yah?” Tanya sang anak.
          “Betul. Mari kita mengikuti iman Nabi Musa. Tuhannya pasti jauh lebih berkuasa dari Firaun sombong itu”, jawab sang ayah, penuh semangat.
          Ternyata tak hanya keluarga itu saja yang menyatakan keimanan kepada Musa, tetapi banyak lagi rakyat Firaun yang juga ingin mengikuti Musa. Diantaranya bahkan ada beberapa tukang sihir Firaun. Hal ini membuat Firaun sangat murka.
          “Hai Musa dan Harun, kalian kira kalian memenangkan pertarungan ini ya? Kalian salah! Kalian pasti menyesal! Setelah ini akan ada pembuktian bahwa hanya akulah yang layak kalian sembah. Bukannya Tuhan kalian itu!”
          Tak lupa untuk melengkapi kemarahannya, Firaun memerintahkan seluruh tukang sihir yang beriman kepada Musa untuk disalib saat itu juga. Para rakyat berhamburan ketakutan, tak mau menjadi korban berikutnya. Suasana pesta yang diharapkan akan menambah wibawa Firaun kini hancur berantakan.

          Sementara itu di balik jendela kamarnya di istana megah, Asiyah menyaksikan semua kejadian dengan perasaan yang campur aduk. Ia bahagia, dan bersyukur bahwa Musa selamat dan dapat ‘mengatasi’ ujian dari Firaun. Ia juga merasa bersyukur bahwa ia kini beriman kepada Tuhannya Musa, Tuhan yang sejak dulu sebenarnya sudah ada di dalam hatinya. Ia juga sedih melihat banyaknya korban akibat kekejaman suaminya. Dan tentu saja, ia marah dan kecewa sekali pada suaminya yang tak juga membuka hatinya untuk beriman.

          Di istana Firaun, sejak saat itu, mulai terjadi perubahan. Beberapa pengawal dan dayang istana beriman kepada Tuhannya Musa. Termasuk tukang sisir anak gadis Firaun yang bernama Masyitah. Masyitah adalah seorang istri dan ibu, perempuan sederhana yang berhati mulia. Masyitah cukup dekat dengan Asiyah.
          Lama kelamaan, anak gadis Firaun mulai curiga kepada Masyitah. Ia kemudian mendapat info tentang keimanan Masyitah, sehingga terbuktilah kecurigaannya. Dengan marah, ia mengadu kepada ayahnya bahwa tukang sisirnya sudah berkhianat.
          Belum habis kekesalan Firaun, ia segera memanggil paksa Masyitah dan anak-anaknya. Masyitah diseret kehadapannya dengan seluruh tubuh dirantai. Dengan keras Firaun bertanya, “Siapa Tuhanmu?”
          Masyitah menjawab dengan tenang sambil berdoa di dalam hati, “TUhanku dan Tuhanmu itu sama, satu, yaitu Allah Yang Mahaperkasa”.
          Sudah tak tertahankan lagi amarah Firaun mendengar jawaban Masyitah. Segera ia memerintahkan satu persatu anak Masyitah dimasukkan ke dalam sebuah wajan yang sedang dipanaskan dengan api yang menyala-nyala.
          Melihat ini, Masyitah menangis tak henti sambil terus berdoa mohon pertolongan Allah. Hingga bayi yang ada di dalam pelukannya, diambil paksa pula oleh seorang tentara Firaun. Masyitah menjerit pilu.
          Namun dengan izin Allah swt, bayi itu tiba-tiba berkata, “Jangan bersedih ibu, sesungguhnya ibu berada di dalam kebenaran”.
          Tak lama, habislah seluruh keluarga Masyitah masuk ke dalam wajan dan terpanggang di dalamnya.
         
          Asiyah menyaksikan semua itu dengan mata kepalanya sendiri, dan tak bisa melakukan apapun, karena ia terlalu shock. Ia pingsan. Sebelum pingsan, ia sempat bergumam, “Tiada daya dan upaya, melainkan dengan pertolongan Allah semata…” Berkali-kali ia mengucapkan kalimat yang kita kenal dengan kalimat hawqalah itu.
          Para dayang segera membawa kembali Asiyah ke kamarnya, namun ucapan doa itu sempat terdengar oleh Haman. Orang inilah yang kembali mengadukan Asiyah kepada Firaun.
          Dengan marah, Firaun mendatangi kamar istrinya dan memaksa istrinya bangun. Ia mengancam istrinya akan melakukan kekejaman yang sama seperti terhadap Masyitah dan keluarganya, namun Asiyah tetap bertahan. Beberapa tentara Firaun dengan cepat mengikat tubuh Asiyah yang sedang lemah. Tanpa hati dan perasaan, Firaun mencambuki tubuh istrinya.
          Sebelum kembali pingsan, Asiyah sempat berdoa dengan tegar, “Ya Allah, buatkanlah untukku sebuah istana di sisi-Mu di dalam syurga, serta selamatkanlah aku dari Firaun dan kekejamannya”.

          Allah swt berfirman, “Dan Allah telah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Firaun, ketika dia berkata, Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu di dalam syurga dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim” (QS At Tahrim ayat 11).
          Beberapa masa kemudian, ketika Rasulullah saw sudah diangkat menjadi Nabi, Allah swt mengabarkan bahwa Asiyah sudah berada di syurga-Nya. Rasulullah saw bersabda, “sebaik-baik perempuan di bumi ini ada empat, yaitu Maryam binti Imran, Asiyah istrinya Firaun, Khadijah binti Khuwailid, dan Fathimah binti Muhammad”.


Trivia tentang Asiyah


1.    Asiyah tidak pernah punya anak dari Firaun, adapun anak gadis Firaun yang diceritakan di atas adalah anak Firaun dari istrinya terdahulu yang sudah meninggal dunia.
2.    Asiyah meninggal dunia tidak lama setelah siksaan yang ia peroleh dari Firaun dalam keadaan sakit.
3.    Asiyah dan Masyitah berteman dekat sejak Hezekil (Hazaqil), suami Masyitah dihukum mati dengan dipanah dan diikat pada sebuah pohon. Hazaqil dihukum mati, karena sebagai pegawai istana, ia menentang hukuman mati kepada para tukang sihir yang beriman kepada Musa.
4.    Ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa Asiyah meninggal pada saat disalib oleh suaminya yang kejam itu dan punggungnya dirantai dengan besi.

5.    Ada beberapa riwayat juga yang mengatakan bahwa Masyitah terbuka keimanannya ketika ia melaknat Firaun saat sisir yang dipakainya untuk menyisir rambut anak gadis Firaun terjatuh. Bahkan ada riwayat juga yang menyatakan bahwa Asiyah sendirilah yang menyisir rambut anak tirinya itu. Wallahu a’lam. 

Minggu, 02 April 2017

Asiyah, Permata dari Istana Firaun



Putri Cantik yang Membuat Firaun bahagia


          Namanya Asiyah binti Muzahim, wajahnya amat cantik memesona. Begitu pula kebaikan budinya yang dilengkapi dengan tutur kata sopan dan halus. Wajar saja jika Raja Firaun amat mencintai istrinya ini. Segala permintaan istrinya dikabulkan segera. Bahkan Raja yang sangat kaya ini tak segan membangun sebuah istana yang indah di tepi sungai Nil untuk menyenangkan hati sang istri. Awal pernikahan sungguh sangat membuat Firaun dan Asiyah tampak bahagia, mereka terlihat seperti pasangan yang serasi.
          Namun kebahagiaan ini tidak berjalan lama, Firaun mulai berubah, kembali kepada sifat aslinya. Ia yang sedang berada di puncak kekuasaannya bertambah sombong, dan semakin bertambah sombong. Tidak tanggung-tanggung, ia mulai menganggap dirinya sebagai Tuhan yang harus disembah oleh seluruh rakyatnya. Bukan hanya itu, terhadap Asiyah-pun, Firaun mulai menunjukkan kesombongannya. Ia meminta istrinya menuruti semua kehendaknya tanpa terkecuali.
          Asiyah yang pada dasarnya memiliki akhlak yang baik, merasa tidak nyaman dengan perubahan sikap suaminya, yang bukannya bertambah baik, malah bertambah buruk. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kehidupan pemimpin Negara Mesir yang tadinya dipenuhi kebahagiaan ini berubah menjadi suram. Asiyah merasa istananya tidak lagi senyaman dulu.
          Dalam hatinya, Asiyah ingin melawan, namun ia tahu ia tak memiliki cukup kekuatan untuk menentang suaminya. Ia hanya bisa bersabar dan berharap ada pertolongan untuknya.
           Dalam keadaan yang seperti ini, yang bisa dilakukan Asiyah hanyalah beribadah kepada Allah SWT dan berdoa tak putus-putus, di setiap malam ketika seluruh penghuni istana sudah tertidur nyenyak. Tak bosan, Asiyah mengulang doanya dan menjalaninya sebagai suatu ikhtiar (usaha) untuk memperbaiki nasibnya, dan berharap Allah Swt mau memberikan petunjuk kepada suaminya.

Awal Yang Sudah Kurang Baik Bagi Asiyah

          Sebelum menikah dengan Asiyah, Firaun (yang merupakan nama gelar Raja-raja Mesir) yang terakhir, sudah pernah menikah. Sepeninggal istrinya, Firaun yang sudah terkenal akan kekejamannya itu hidup seorang diri, dan ia berpikir untuk menikah lagi.
          Sementara itu, di sebuah daerah di dalam wilayah kekuasaannya, ada seorang gadis cantik yang baik budinya bernama Asiyah binti Muzahim. Asiyah tinggal bersama kedua orang tuanya, dan merupakan anak yang sangat berbakti. Asiyah masih keturunan keluarga Imran yang dimuliakan oleh Allah.
          Berita tentang kecantikan dan kebaikan budi gadis Asiyah terdengar kepada Firaun. Rupanya ia tertarik ingin menikahi Asiyah. Dia lalu mengutus menterinya, yang bernama Haman, untuk melamar Asiyah kepada orang tuanya.
          Orang tua Asiyah tidak begitu saja menerima lamaran Firaun. Mereka bertanya lebih dulu kepada sang puteri, “Wahai puteriku, maukah engkau menikah dengan Firaun?”
          Segera Asiyah menjawab dengan tegas tetapi sopan, “Maafkan saya, ayah dan ibu, tetapi saya tidak mau menikah dengan orang yang terkenal kejam dan sombong, lagipula dia ingkar kepada Tuhannya”.
          Betapa marahnya Firaun mendapat cerita dari Haman, bahwa Asiyah menolak lamarannya. Ia segera memerintahkan menangkap kedua orang tua Asiyah dan memasukkannya ke dalam penjara. Tentu saja mereka juga mengalami penyiksaan yang amat kejam.
          Asiyah dibawa menyusul kemudian. Di hadapannya diperlihatkan keadaan orang tuanya yang begitu menderita. Firaun dengan kesombongannya, berkata, “Wahai Asiyah, lihatlah keadaan orang tuamu. Apakah kamu tega melihat mereka disiksa? Nah, kalau kamu memang anak yang baik, kamu pasti tidak tega melihatnya bukan?”
          Asiyah terdiam. Hatinya bimbang dan sangat sedih.
          “Begini, jika kamu mau menerima lamaranku, kedua orang tuamu akan aku bebaskan segera. Tapi… jika kamu menolakku, aku tak segan-segan menyiksa keduanya bahkan membakar mereka hidup-hidup di depanmu. Bagaimana?” Firaun berkata lagi. Melihat Asiyah yang bimbang, ia tertawa keras-keras, yakin bahwa ia akan memperoleh keinginannya.
          Asiyah segera mohon petunjuk dari Allah swt sambil memejamkan mata. Ia lalu menjawab, “Baiklah, aku bersedia menikah denganmu. Tapi aku akan mengajukan syarat dan engkau harus menerima persyaratan ini. Bagaimana, adil bukan?”
          Firaun yang sudah terlanjur jatuh hati kepada Asiyah, tanpa diduga, bersedia mengabulkan persyaratan itu.
          Mau tahu, apa persyaratan yang diajukan Asiyah kepada Firaun?
          Ini dia,
1.    Firaun harus segera membebaskan kedua orang tua Asiyah
2.    Firaun harus membuatkan sebuah rumah yang indah dengan perabotan yang lengkap untuk kedua orang tua Asiyah
3.    Firaun harus menjamin kesehatan serta makan dan minum keduanya
4.    Asiyah bersedia menjadi istri Firaun, menemaninya hadir di acara-acara kenegaraan, tetapi menolak sekamar dengan Firaun.
Jika syarat-syarat ini tidak dipenuhi, Asiyah bersedia mati bersama kedua orang tuanya.
          Demikanlah, akhirnya Firaun bersedia menerima syarat yang diajukan calon istrinya itu. Kedua orang tua Asiyah segera dibebaskan dan mereka memperoleh apa yang dijanjikan oleh Firaun.
          Firaun dan Asiyah jadi menikah dan pernikahannya dirayakan dengan sangat megah. Namun, Asiyah tetap dengan keimanannya dan syarat-syarat yang dipenuhinya.
          Untuk menolong Asiyah, Allah menciptakan jin yang menyerupai Asiyah. Jin inilah yang masuk ke kamar Firaun dan menemaninya.

Bayi Musa dan kasih sayang Asiyah

          Firaun amat mempercayai para tukang sihir dan menteri-menterinya. Pada suatu hari, tukang sihirnya menyatakan bahwa akan ada seorang laki-laki yang melawan kekuasaan Firaun dan menggantikannya sebagai pemimpin Mesir. Alangkah cemas hati Firaun memikirkan hal ini.
          Ia begitu takut kekuasaanya dijatuhkan. Saking takutnya, ia kemudian memerintahkan semua bayi laki-laki yang lahir di wilayah kekuasaannya, harus dibunuh tanpa terkecuali.
          Di sebuah daerah di wilayah kekuasaannya, lahirlah seorang bayi yang kemudian diangkat Allah sebagai seorang nabi. Musa namanya. Ibu Musa adalah seorang yang beriman kepada Allah swt, itulah sebabnya ia berkeras menyembunyikan anaknya dan menolak membunuh anaknya.
          Karena takut keberadaan anaknya diketahui tentara Firaun, ibu Musa menempatkan bayinya di keranjang yang sudah dilengkapi dengan segala kebutuhannya, lalu dihanyutkan ke sungai Nil. Perasaannya berat dan iapun melakukan ini demi keselamatan sang putera. Tak lupa ia berdoa, semoga Allah swt berkenan menolong dan melindungi anaknya. Ibu Musa yang bernama Arkha, membuat sendiri keranjang berbentuk kotak itu dari kayu kurma, bersama anaknya yang lain yang bernama Maryam.
          Ketika melepas Musa, Maryam tersedu. Ibunya memeluknya dengan lembut dan berbisik, “jangan cemas anakku, sesungguhnya Allah telah berjanji akan menjaganya dan mengembalikannya kepadaku, untuk kemudian dijadikan sebagai seorang Nabi bagi Bani Israil”.
          Maryam berusaha menghentikan tangisannya dan mengangguk.
          Ibunya berkata lagi, “Sekarang ibu akan pulang. Tolong engkau ikuti kemana keranjang kotak itu pergi. Jangan ada yang curiga dan melihat gerak gerikmu, ya?”
          Mendengar amanah yang akan ia jalankan, Maryam menjadi bersemangat. Ia mengangguk senang dan berjanji akan menuruti perintah ibunya.
          Tentang kisah memilukan ini, Allah mengisahkannya kembali dengan indah di Quran Surat Al Qashshash ayat 10 dan 11.
          “Dan hati ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah).
          Dan dia (ibu Musa) berkata kepada saudara perempuan Musa, ‘Ikutilah dia (Musa)’, maka tampaklah olehnya (Musa) dari jauh, sedang mereka tidak menyadarinya. “
          Sementara itu, aliran sungai Nil seakan membungkus keranjang berisi bayi Musa dan mengayunnya dengan lembut, hingga perlahan sampai di istana Firaun.
          Betapa terkejutnya Maryam, ketika para pengawal istana menemukan keranjang kotak berisi bayi adiknya. Mereka memungutnya dan membawanya kepada Asiyah yang sedang duduk-duduk di taman istana.
          Para pengawal dan dayang istana membuka keranjang kotak itu setelah diperintahkan oleh Asiyah. Betapa terkejutnya mereka semua ketika mendapati isi kotak itu adalah seorang bayi laki-laki yang sehat, tampan, dan lucu. Seketika itu juga dengan kehendak Allah, sinar keagungan bayi Musa memancar dan merasuki hati Asiyah serta semua yang ada di situ, sehingga timbul rasa kasih sayang mereka terhadap bayi Musa.
          “Aihh, lucu sekali bayi ini…” gumam Asiyah sambil meraih sang bayi dengan lembut dan membawanya ke dalam pelukan. Seketika bayi itu merasa nyaman di dalam dekapan Asiyah yang sangat keibuan.
          Para dayang dan pengawal pun mengagumi kelucuan bayi Musa, dan ingin ikut menggendongnya. Suasana taman istana yang cerah itu menjadi semakin hangat dengan hadirnya sang bayi.
          Tentang kisah yang indah ini, Allah swt berfirman,
          “Maka dia dipungut oleh keluarga Firaun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sungguh, Firaun dan Haman beserta bala tentaranya adalah orang orang yang bersalah” (Al Qashash ayat 8).
          “… AKu telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari Ku, dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (thaahaa ayat 39).

          Sayang sekali, ada seorang pengawal Asiyah yang melaporkan penemuan bayi itu kepada Haman. Haman tak tinggal diam. Dia segera melaporkan hal itu kepada Firaun yang tentu saja sangat murka mendengarnya.
          Firaun didampingi Haman, segera menuju taman istana. Dengan penuh amarah ia memerintahkan untuk merampas bayi yang sedang digendong Asiyah, dan segera membunuhnya.
          Asiyah tidak tinggal diam, dengan suara memohon, ia berkata kepada suaminya, “Wahai paduka, jangan menyakitinya. Barangkali kita bisa mengangkatnya sebagai anak kita. Lihatlah, ia begitu lucu dan menggemaskan”.
          Mendengar ucapan istrinya yang dia cintai, hati Firaun sedikit lunak. Bergantian ditatapnya istrinya dan bayi kecil itu. Sinar keagungan bayi Musa menerpa wajah Firaun. Kembali hati raja yang kejam itu melunak. Ia mulai merasa jatuh sayang pada bayi itu.
          Ia kemudian memerintahkan pengawal untuk membubarkan diri, tidak jadi menangkap bayi itu dan membunuhnya. Yang jengkel, justru si Haman karena usahanya gagal. Baiklah, ia berkata dalam hati, nanti pasti ada jalan.

          Tetapi ada satu masalah yang belum terpecahkan. Bayi Musa tidak mau menyusu kepada siapapun. Padahal ia tampak sudah lapar dan haus. Asiyah pusing memikirkannya, ia khawatir bayi itu jatuh sakit.
          Melihat hal itu, Maryam memberanikan diri mendekati istana. Ia berbisik kepada salah satu pengawal istana, “Hai, kamu mau aku kasih tahu? Ada seorang perempuan yang biasa menyusui bayi dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Dia ini tidak mau dibayar mahal-mahal, asal cukup untuk keperluannya sehari-hari saja.”
          Pengawal itu terkejut dan berpikir, iya daripada si bayi kelaparan dan kehausan, kasihan.
          “Maukah kamu kupanggilkan perempuan itu? Moga-moga bayi itu mau menyusu padanya”, kata Maryam lagi.
          Pengawal itu segera pergi menemui Asiyah dan mendapat persetujuan untuk memanggil perempuan, calon ibu susu sang bayi.
          Allah swt berfirman,
          “Dan kami cegah dia (Musa) menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu, maka berkatalah dia (saudara perempuan Musa), ‘Maukah kutunjukkan kepadamu keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik padanya?’” (Al Qashash ayat 12).
         
          Alangkah gembiranya hati ibu Musa mendengar kabar itu, dia tak membuang waktu lagi, segera berangkat ke istana untuk menemui puteranya dan menyusuinya. Setelah menenangkan diri, Ibu Musa mulai menyusui anaknya yang dengan lahap menyambut kasih sayang dari ibu kandungnya itu.
          “Maka Kami kembalikan dia (Musa) kepada ibunya, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati, dan agar dia mengetahui bahwa janji Allah adalah benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya. “ (Al Qashash ayat 13).
          Melihat bayi Musa dengan lahap menyusu kepada Ibu Arkha, Asiyah menjadi tenang dan ia menaruh hormat kepada perempuan itu.
          Demikianlah bayi Musa kemudian tumbuh sebagai anak laki-laki yang sehat dan cerdas. Asiyah sangat menyayanginya karena ia sendiri tidak melahirkan seorang anakpun.

Asiyah beriman kepada Nabi Musa

          Waktu berlalu dengan cepat, Musa tumbuh menjadi seorang pemuda yang cerdas, rajin, kuat dan gagah. Pada suatu hari, Musa berkelahi dengan seorang pemuda dari kaum Firaun sehingga pemuda itu meninggal dunia. Mendengar itu, Asiyah menjadi sangat cemas. Ia takut jika Musa dikenai hukuman oleh Firaun dan bala tentaranya yang terkenal kejam.
          Sementara itu Musa sudah melarikan diri sementara ke Negara Madyan, atas saran seorang pengawal Firaun yang beriman, yang bernama Hezkel. Kemudian Hezkel melapor pada Asiyah bahwa atas pertolongan Allah swt, Musa selamat dan sudah berada di Negara Madyan. Asiyah sangat bersyukur kepada Allah swt bahwa putera angkat kesayangannya itu terlepas dari hukuman.
          Di Negara Madyan, Musa menikah dengan salah seorang puteri nabi Syuaib yang bernama Shafura. Setelah cukup lama berselang, Musa membawa keluarganya kembali ke Negara Mesir. Di perjalanan ia diangkat sebagai Nabi oleh Allah swt, juga bersama dengannya diangkat sebagai Nabi, saudaranya Harun. Mereka mendapat tugas mendakwahkan agama yang benar kepada Firaun.

To be continued.....

Jumat, 04 Desember 2015

Nabi Idris, Nabi yang Teknokrat dan Penulis

Menjelang ajalnya, Nabi Adam memanggil putranya, Syits, yang artinya pemberian Allah. Ia mengajarkan putranya ilmu tentang waktu, waktu dan tatacara shalat, puasa, berzakat, dan haji. Beliau menyampaikan bahwa kelak akan terjadi banjir besar dan badai topan yang dahsyat. Setelah itu beliau wafat.
            Allah swt menurunkan lima puluh shahifah (lembaran-lembaran) kepada Syits, isinya tentang pokok-pokok ajaran tauhid. Syits mewariskan ilmu dari Nabi Adam dan Allah kepada putranya, Anusy. Anusy mewariskan kepada putranya, Qinan. Qinan mewariskan kepada putranya, Mikhlayil, seorang raja yang memerangi kaum Qabil yang jahat dan kafir. Tugas dakwah dilanjutkan oleh putranya, Yird. Kemudian dilanjutkan lagi oleh putra Yird bernama Idris. Idris adalah pemuda yang cerdas.
            Ia adalah orang pertama yang menjahit baju dan menghiasnya. Beliau selalu menjahit sendiri pakaiannya. Beliau juga mempelajari ilmu perbintangan dan mengajarkannya kepada orang-orang. Selain itu juga ia mengajarkan ilmu Hisab dan ilmu Hikmah.
            Nabi Idris pernah hidup satu masa dengan nabi Adam, menurut riwayat, kurang lebih tiga ratus delapan tahun.
            Beliau juga terkenal sebagai orang yang selalu shalat tepat waktu. Banyak masyarakat mencintainya. Penduduk Mesir mengatakan bahwa Idris lahir di Memphis, ibukota Mesir zaman Firaun. Orang Yunani menyebutnya dengan Urin ketiga dan mengangkat beliau sebagai hakim yang sangat dihormati.
            Pada penduduk Mesir, beliau mengajarkan ilmu teknologi pengairan. Pada penduduk Babylonia, beliau mengajarkan teknik sipil dan arsitektur. Aduh, subhanallah... hebat banget ya...
            Nabi Idris merupakan contoh perpaduan seorang agamawan, cendekiawan, dan negarawan, dan juga teknokrat. Hmm... harusnya kita juga mencontoh beliau ya...
Idris adalah nabi kedua setelah Nabi Adam as. Nama lengkapnya adalah Idris bin Mahlayil bin Qainan bin Anusy bin Syits bin Adam as. Al Quran tidak banyak bercerita tentang beliau. Hanya disebutkan beliau adalah orang yang sabar dan diangkat Allah ke tempat yang tinggi.
            Menurut sebagian kelompok, ia dilahirkan di daerah Munaf, Mesir. Nama sebenarnya adalah Hurmus al Haramisah. Kata Hurmus dalam bahasa Arab berasal dari kata Arnia dalam bahasa Yunani. Menurut orang Ibrani, namanya Khunukh. Ada juga yang bilang bahwa ia lahir dan besar di Babylonia.
Idris AS adalah orang pertama dari anak cucu Adam yang diberi pangkat kenabian setelah Adam dan Syits AS. Ibnu Ishaq menuturkan, Idris adalah orang pertama yang  menulis dengan pena. Beliau mengalami masa hidup Adam AS selama 308 tahun. Adam dikaruniai umur yang sangat panjang, sekitar 1000 tahun, sebagaimana kisah Adam AS yang telah lalu.[1]
Oleh karena itu, Idris berniat meninggalkan mereka dan menyuruh orang yang mentaatinya untuk mengikutinya. Namun, mereka merasa keberatan jika harus meninggalkan tempat kelahiran. Mereka berkata, “Jika kita pergi, apakah kita akan menemukan negeri seperti Babilon ini? Idris menjawab, “Jika kita hijrah karena Allah, maka Dia akan memberi rezeki di negeri yang lain.” Maka Idris bersama kaumnya hijrah menuju negeri Mesir. Mereka melihat sungai Nil. Beliau berhenti di tepi sungai itu seraya bertasbih kepada Allah. Nabi Idris beserta umatnya bermukim di Mesir, menyeru manusia kepada Allah dan mengajak pada budi pekerti mulia.”[2]
Setelah dewasa, ia meninggalkan Mesir, berkelana keliling dunia. Pada usia 82 tahun, ia 'pulang kampung'. Saat itu juga ia menerima wahyu lewat Jibril.
            Ia ditugaskan mengajak kaum Qabil yang sesat. Ia mengajak berbuat kebaikan, hidup sederhana, shalat, berpuasa pada hari-hari tertentu dan mengeluarkan zakat. Jadi, perintah ibadah itu sudah ada lho.
            Nabi Idris ini termasuk orang pertama yang jago menunggang kuda, jago ilmu alam, tulis menulis dan berhitung.


            Sebuah riwayat menyebutkan bahwa pada masa Idris terdapat 72 bahasa yang digunakan oleh manusia. Allah mengajarkan kemampuan berbahasa kepada Idris, agar ia mampu berkomunikasi dengan setiap kelompok manusia dengan bahasa mereka. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an: “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya.” (Qs. Ibrahim: 4)
Idris adalah orang pertama yang mengajar tentang Kebijakan Perkotaan dan merancang prinsip dasar mendirikan perkotaan kepada kaumnya. Karena jasanya itu, setiap kelompok umat membangun perkotaan di bumi. Dan pada masa Idris telah tersebar 188 kota.
Idris terkenal dengan ajaran hikmahnya. Di antara hikmah beliau adalah: “Sebaik-baiknya dunia adalah kerugian dan sejelek-jeleknya adalah penyesalan”;
            Ia juga sangat gagah berani sehingga digelari 'Asadul Usud' alias singa segala singa.
            Ia belajar segala macam ilmu peninggalan Nabi Adam dan Syits as. Pantas... Kalau begitu, beliau ini termasuk cendekiawan generasi pertama ya.
            Pada cincinnya tertulis 'Iman kepada Allah mendatangkan kesuksesan'. Pada baju yang digunakannya untuk shalat jenazah tertulis 'Orang yang berbahagia ialah yang dapat melihat amal-amal baik bagi dirinya dan syafaat di sisi Tuhannya'.
            Ia pernah berkata, "Tidaklah seseorang dapat bersyukur kepada Allah atas kenikmatan yang Ia berikan kepada makhluk-Nya. Apabila kamu berdoa kepada Allah, maka ikhlaskanlah niatnya. Kerjakanlah puasa dan shalat. Janganlah dengki atas rezeki yang mereka peroleh, karena mereka cuma menikmati sedikit saja. Barangsiapa melebihi batas kecukupannya, ia pun tidak akan pernah merasa cukup. Kehidupan jiwa adalah di dalam hikmah".
            Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, dari Anas bin Malik ra., ketika Rasulullah saw mi'raj ke langit, beliau bertemu Nabi Idris di suatu tempat. Idris berkata, "Selamat datang saudara yang saleh dan Nabi yang saleh".
            Rasul bertanya, "Siapakah dia, wahai Jibril?"
            Jibril menjawab, "Dialah Idris".

Ayat-ayat yang berkisah tentang Nabi Idris as:
QS Al Anbiyaa 85-86, Maryam 56-57.



[1] Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, Jilid I, hlm. 99.
[2] Lihat an-Najjar, Qishash Al-Anbiya’, hlm. 26.