Tampilkan postingan dengan label Islamic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamic. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Juli 2017

Asiyah, Permata dari Istana Firaun (bagian 2)

Di tengah perjalanan, Allah swt mengangkat Musa dan saudaranya, Harun, menjadi Nabi bagi kaum Bani Israil dan kaum Firaun. Keduanya membawa perintah Allah swt untuk mengajak seluruh kaum Bani Israil dan Firaun hanya beribadah kepada Allah swt saja. Tentu saja ini tugas yang sangat berat bagi keduanya, namun keduanya harus segera melaksanakannya.
          Setelah perjalanan yang cukup jauh itu, mereka tiba di Mesir yang masih dikuasai oleh Firaun dengan sikap sombong dan zalimnya. Musa dan Harun pantang menyerah untuk melaksanakan tugas dakwah dari Allah swt tersebut. Meskipun untuk itu, mereka harus menghadapi sikap Firaun yang menjengkelkan.

          Suatu hari yang cerah, Firaun mengadakan sebuah perayaan yang tujuan sebenarnya adalah untuk menunjukkan kebesaran dan kekuasaannya, agar menggentarkan hati Musa dan Harun. Pada perayaan megah itu, tak lupa ia mengundang semua tukang sihirnya untuk menandingi ‘shir’ Musa, yang sebenarnya adalah mukjizat dari Allah swt untuk Nabi yang dipilih-Nya. Mukjizat Musa tersebut adalah tongkatnya yang bisa berubah menjadi ular.
          Dengan congkak, Firaun menantang Musa, “Mana, coba buktikan kalau engkau memang utusan Tuhanmu? Ayoo, masa engkau tak punya kehebatan sedikitpun. Mana mau kami percaya pada manusia biasa sepertimu?”
          Para tukang sihir Firaun maju ke tengah lapangan istana, mereka menyihir tongkat-tongkat mereka menjadi ratusan bahkan ribuan ular-ular kecil. Penonton menjerit-jerit dan berlarian ketakutan, terutama perempuan dan anak-anak. Dalam hati mereka yang ketakutan, mereka mengakui kehebatan Firaun dan tukang-tukang sihirnya.
          Kini tiba giliran Musa. Dengan tenang dan membaca basmalah terlebih dahulu, ia memohon pertolongan kepada Allah swt agar dimudahkan menghadapi kaum Firaun yang buta mata dan hatinya itu.
          Dengan pertolongan Allah swt…ajaib….
          Tongkat Nabi Musa seketika itu juga berubah menjadi ular yang sangat besar dan memakan semua ular-ular kecil yang bertebaran. Seluruh penonton bersorak dan berseru kagum.
          “Waah, itu ularnya hebat ya, bisa memakan semua ular kecil”, seru seorang anak.
          “Bukaan, yang hebat itu ya Musa, bukan ularnya”, sahut ibunya.
          “Ya salah semua. Yang hebat adalah Tuhannya Musa, yang memberikan kekuasaan pada Musa untuk mendatangkan ular dari tongkatnya”, sambut sang ayah.
          “Kalau begitu Firaun sih enggak ada apa-apanya ya, Yah?” Tanya sang anak.
          “Betul. Mari kita mengikuti iman Nabi Musa. Tuhannya pasti jauh lebih berkuasa dari Firaun sombong itu”, jawab sang ayah, penuh semangat.
          Ternyata tak hanya keluarga itu saja yang menyatakan keimanan kepada Musa, tetapi banyak lagi rakyat Firaun yang juga ingin mengikuti Musa. Diantaranya bahkan ada beberapa tukang sihir Firaun. Hal ini membuat Firaun sangat murka.
          “Hai Musa dan Harun, kalian kira kalian memenangkan pertarungan ini ya? Kalian salah! Kalian pasti menyesal! Setelah ini akan ada pembuktian bahwa hanya akulah yang layak kalian sembah. Bukannya Tuhan kalian itu!”
          Tak lupa untuk melengkapi kemarahannya, Firaun memerintahkan seluruh tukang sihir yang beriman kepada Musa untuk disalib saat itu juga. Para rakyat berhamburan ketakutan, tak mau menjadi korban berikutnya. Suasana pesta yang diharapkan akan menambah wibawa Firaun kini hancur berantakan.

          Sementara itu di balik jendela kamarnya di istana megah, Asiyah menyaksikan semua kejadian dengan perasaan yang campur aduk. Ia bahagia, dan bersyukur bahwa Musa selamat dan dapat ‘mengatasi’ ujian dari Firaun. Ia juga merasa bersyukur bahwa ia kini beriman kepada Tuhannya Musa, Tuhan yang sejak dulu sebenarnya sudah ada di dalam hatinya. Ia juga sedih melihat banyaknya korban akibat kekejaman suaminya. Dan tentu saja, ia marah dan kecewa sekali pada suaminya yang tak juga membuka hatinya untuk beriman.

          Di istana Firaun, sejak saat itu, mulai terjadi perubahan. Beberapa pengawal dan dayang istana beriman kepada Tuhannya Musa. Termasuk tukang sisir anak gadis Firaun yang bernama Masyitah. Masyitah adalah seorang istri dan ibu, perempuan sederhana yang berhati mulia. Masyitah cukup dekat dengan Asiyah.
          Lama kelamaan, anak gadis Firaun mulai curiga kepada Masyitah. Ia kemudian mendapat info tentang keimanan Masyitah, sehingga terbuktilah kecurigaannya. Dengan marah, ia mengadu kepada ayahnya bahwa tukang sisirnya sudah berkhianat.
          Belum habis kekesalan Firaun, ia segera memanggil paksa Masyitah dan anak-anaknya. Masyitah diseret kehadapannya dengan seluruh tubuh dirantai. Dengan keras Firaun bertanya, “Siapa Tuhanmu?”
          Masyitah menjawab dengan tenang sambil berdoa di dalam hati, “TUhanku dan Tuhanmu itu sama, satu, yaitu Allah Yang Mahaperkasa”.
          Sudah tak tertahankan lagi amarah Firaun mendengar jawaban Masyitah. Segera ia memerintahkan satu persatu anak Masyitah dimasukkan ke dalam sebuah wajan yang sedang dipanaskan dengan api yang menyala-nyala.
          Melihat ini, Masyitah menangis tak henti sambil terus berdoa mohon pertolongan Allah. Hingga bayi yang ada di dalam pelukannya, diambil paksa pula oleh seorang tentara Firaun. Masyitah menjerit pilu.
          Namun dengan izin Allah swt, bayi itu tiba-tiba berkata, “Jangan bersedih ibu, sesungguhnya ibu berada di dalam kebenaran”.
          Tak lama, habislah seluruh keluarga Masyitah masuk ke dalam wajan dan terpanggang di dalamnya.
         
          Asiyah menyaksikan semua itu dengan mata kepalanya sendiri, dan tak bisa melakukan apapun, karena ia terlalu shock. Ia pingsan. Sebelum pingsan, ia sempat bergumam, “Tiada daya dan upaya, melainkan dengan pertolongan Allah semata…” Berkali-kali ia mengucapkan kalimat yang kita kenal dengan kalimat hawqalah itu.
          Para dayang segera membawa kembali Asiyah ke kamarnya, namun ucapan doa itu sempat terdengar oleh Haman. Orang inilah yang kembali mengadukan Asiyah kepada Firaun.
          Dengan marah, Firaun mendatangi kamar istrinya dan memaksa istrinya bangun. Ia mengancam istrinya akan melakukan kekejaman yang sama seperti terhadap Masyitah dan keluarganya, namun Asiyah tetap bertahan. Beberapa tentara Firaun dengan cepat mengikat tubuh Asiyah yang sedang lemah. Tanpa hati dan perasaan, Firaun mencambuki tubuh istrinya.
          Sebelum kembali pingsan, Asiyah sempat berdoa dengan tegar, “Ya Allah, buatkanlah untukku sebuah istana di sisi-Mu di dalam syurga, serta selamatkanlah aku dari Firaun dan kekejamannya”.

          Allah swt berfirman, “Dan Allah telah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Firaun, ketika dia berkata, Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu di dalam syurga dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim” (QS At Tahrim ayat 11).
          Beberapa masa kemudian, ketika Rasulullah saw sudah diangkat menjadi Nabi, Allah swt mengabarkan bahwa Asiyah sudah berada di syurga-Nya. Rasulullah saw bersabda, “sebaik-baik perempuan di bumi ini ada empat, yaitu Maryam binti Imran, Asiyah istrinya Firaun, Khadijah binti Khuwailid, dan Fathimah binti Muhammad”.


Trivia tentang Asiyah


1.    Asiyah tidak pernah punya anak dari Firaun, adapun anak gadis Firaun yang diceritakan di atas adalah anak Firaun dari istrinya terdahulu yang sudah meninggal dunia.
2.    Asiyah meninggal dunia tidak lama setelah siksaan yang ia peroleh dari Firaun dalam keadaan sakit.
3.    Asiyah dan Masyitah berteman dekat sejak Hezekil (Hazaqil), suami Masyitah dihukum mati dengan dipanah dan diikat pada sebuah pohon. Hazaqil dihukum mati, karena sebagai pegawai istana, ia menentang hukuman mati kepada para tukang sihir yang beriman kepada Musa.
4.    Ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa Asiyah meninggal pada saat disalib oleh suaminya yang kejam itu dan punggungnya dirantai dengan besi.

5.    Ada beberapa riwayat juga yang mengatakan bahwa Masyitah terbuka keimanannya ketika ia melaknat Firaun saat sisir yang dipakainya untuk menyisir rambut anak gadis Firaun terjatuh. Bahkan ada riwayat juga yang menyatakan bahwa Asiyah sendirilah yang menyisir rambut anak tirinya itu. Wallahu a’lam. 

Jumat, 04 Desember 2015

Nabi Idris, Nabi yang Teknokrat dan Penulis

Menjelang ajalnya, Nabi Adam memanggil putranya, Syits, yang artinya pemberian Allah. Ia mengajarkan putranya ilmu tentang waktu, waktu dan tatacara shalat, puasa, berzakat, dan haji. Beliau menyampaikan bahwa kelak akan terjadi banjir besar dan badai topan yang dahsyat. Setelah itu beliau wafat.
            Allah swt menurunkan lima puluh shahifah (lembaran-lembaran) kepada Syits, isinya tentang pokok-pokok ajaran tauhid. Syits mewariskan ilmu dari Nabi Adam dan Allah kepada putranya, Anusy. Anusy mewariskan kepada putranya, Qinan. Qinan mewariskan kepada putranya, Mikhlayil, seorang raja yang memerangi kaum Qabil yang jahat dan kafir. Tugas dakwah dilanjutkan oleh putranya, Yird. Kemudian dilanjutkan lagi oleh putra Yird bernama Idris. Idris adalah pemuda yang cerdas.
            Ia adalah orang pertama yang menjahit baju dan menghiasnya. Beliau selalu menjahit sendiri pakaiannya. Beliau juga mempelajari ilmu perbintangan dan mengajarkannya kepada orang-orang. Selain itu juga ia mengajarkan ilmu Hisab dan ilmu Hikmah.
            Nabi Idris pernah hidup satu masa dengan nabi Adam, menurut riwayat, kurang lebih tiga ratus delapan tahun.
            Beliau juga terkenal sebagai orang yang selalu shalat tepat waktu. Banyak masyarakat mencintainya. Penduduk Mesir mengatakan bahwa Idris lahir di Memphis, ibukota Mesir zaman Firaun. Orang Yunani menyebutnya dengan Urin ketiga dan mengangkat beliau sebagai hakim yang sangat dihormati.
            Pada penduduk Mesir, beliau mengajarkan ilmu teknologi pengairan. Pada penduduk Babylonia, beliau mengajarkan teknik sipil dan arsitektur. Aduh, subhanallah... hebat banget ya...
            Nabi Idris merupakan contoh perpaduan seorang agamawan, cendekiawan, dan negarawan, dan juga teknokrat. Hmm... harusnya kita juga mencontoh beliau ya...
Idris adalah nabi kedua setelah Nabi Adam as. Nama lengkapnya adalah Idris bin Mahlayil bin Qainan bin Anusy bin Syits bin Adam as. Al Quran tidak banyak bercerita tentang beliau. Hanya disebutkan beliau adalah orang yang sabar dan diangkat Allah ke tempat yang tinggi.
            Menurut sebagian kelompok, ia dilahirkan di daerah Munaf, Mesir. Nama sebenarnya adalah Hurmus al Haramisah. Kata Hurmus dalam bahasa Arab berasal dari kata Arnia dalam bahasa Yunani. Menurut orang Ibrani, namanya Khunukh. Ada juga yang bilang bahwa ia lahir dan besar di Babylonia.
Idris AS adalah orang pertama dari anak cucu Adam yang diberi pangkat kenabian setelah Adam dan Syits AS. Ibnu Ishaq menuturkan, Idris adalah orang pertama yang  menulis dengan pena. Beliau mengalami masa hidup Adam AS selama 308 tahun. Adam dikaruniai umur yang sangat panjang, sekitar 1000 tahun, sebagaimana kisah Adam AS yang telah lalu.[1]
Oleh karena itu, Idris berniat meninggalkan mereka dan menyuruh orang yang mentaatinya untuk mengikutinya. Namun, mereka merasa keberatan jika harus meninggalkan tempat kelahiran. Mereka berkata, “Jika kita pergi, apakah kita akan menemukan negeri seperti Babilon ini? Idris menjawab, “Jika kita hijrah karena Allah, maka Dia akan memberi rezeki di negeri yang lain.” Maka Idris bersama kaumnya hijrah menuju negeri Mesir. Mereka melihat sungai Nil. Beliau berhenti di tepi sungai itu seraya bertasbih kepada Allah. Nabi Idris beserta umatnya bermukim di Mesir, menyeru manusia kepada Allah dan mengajak pada budi pekerti mulia.”[2]
Setelah dewasa, ia meninggalkan Mesir, berkelana keliling dunia. Pada usia 82 tahun, ia 'pulang kampung'. Saat itu juga ia menerima wahyu lewat Jibril.
            Ia ditugaskan mengajak kaum Qabil yang sesat. Ia mengajak berbuat kebaikan, hidup sederhana, shalat, berpuasa pada hari-hari tertentu dan mengeluarkan zakat. Jadi, perintah ibadah itu sudah ada lho.
            Nabi Idris ini termasuk orang pertama yang jago menunggang kuda, jago ilmu alam, tulis menulis dan berhitung.


            Sebuah riwayat menyebutkan bahwa pada masa Idris terdapat 72 bahasa yang digunakan oleh manusia. Allah mengajarkan kemampuan berbahasa kepada Idris, agar ia mampu berkomunikasi dengan setiap kelompok manusia dengan bahasa mereka. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an: “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya.” (Qs. Ibrahim: 4)
Idris adalah orang pertama yang mengajar tentang Kebijakan Perkotaan dan merancang prinsip dasar mendirikan perkotaan kepada kaumnya. Karena jasanya itu, setiap kelompok umat membangun perkotaan di bumi. Dan pada masa Idris telah tersebar 188 kota.
Idris terkenal dengan ajaran hikmahnya. Di antara hikmah beliau adalah: “Sebaik-baiknya dunia adalah kerugian dan sejelek-jeleknya adalah penyesalan”;
            Ia juga sangat gagah berani sehingga digelari 'Asadul Usud' alias singa segala singa.
            Ia belajar segala macam ilmu peninggalan Nabi Adam dan Syits as. Pantas... Kalau begitu, beliau ini termasuk cendekiawan generasi pertama ya.
            Pada cincinnya tertulis 'Iman kepada Allah mendatangkan kesuksesan'. Pada baju yang digunakannya untuk shalat jenazah tertulis 'Orang yang berbahagia ialah yang dapat melihat amal-amal baik bagi dirinya dan syafaat di sisi Tuhannya'.
            Ia pernah berkata, "Tidaklah seseorang dapat bersyukur kepada Allah atas kenikmatan yang Ia berikan kepada makhluk-Nya. Apabila kamu berdoa kepada Allah, maka ikhlaskanlah niatnya. Kerjakanlah puasa dan shalat. Janganlah dengki atas rezeki yang mereka peroleh, karena mereka cuma menikmati sedikit saja. Barangsiapa melebihi batas kecukupannya, ia pun tidak akan pernah merasa cukup. Kehidupan jiwa adalah di dalam hikmah".
            Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, dari Anas bin Malik ra., ketika Rasulullah saw mi'raj ke langit, beliau bertemu Nabi Idris di suatu tempat. Idris berkata, "Selamat datang saudara yang saleh dan Nabi yang saleh".
            Rasul bertanya, "Siapakah dia, wahai Jibril?"
            Jibril menjawab, "Dialah Idris".

Ayat-ayat yang berkisah tentang Nabi Idris as:
QS Al Anbiyaa 85-86, Maryam 56-57.



[1] Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, Jilid I, hlm. 99.
[2] Lihat an-Najjar, Qishash Al-Anbiya’, hlm. 26.