Minggu, 25 Maret 2018

Nabi Dzulkifli Yang Menepati Janjinya



Sebagian ahli sejarah mengatakan nama aslinya adalah Basyar putra Ayyub as. Ia menjabat sebagai raja setelah menggantikan seorang raja yang sudah sangat tua. Dia berdomisili di Syam. Penduduk Damaskus menuturkan bahwa Dzul Kifli dimakamkan di sebuah bukit, tempat yang dimuliakan yang diberi nama bukit Qasiyun.
Sebelum menjadi raja, Dzulkifli diberikan beberapa syarat oleh raja pendahulunya, yaitu sanggup puasa di siang hari, beribadah di malam hari (qiyamul lail), dan tidak akan marah-marah. Dzulkifli menyanggupinya, maka jadilah ia raja. Wah padahal syaratnya berat banget ya.
            Suatu hari ada setan datang ke rumahnya pada malam hari. Ia menyamar sebagai rakyatnya yang minta dibereskan urusannya. Karena ia lelah, Dzulkifli mewakilkan urusannya kepada wakilnya. Namun setan itu memaksanya turun langsung. Hebatnya beliau tidak marah.
            Suatu hari rakyatnya diperangi oleh tentara kafir. Rakyatnya ketakutan, karena mereka sebetulnya takut mati. Mereka mengadu kepada beliau.
Hebatnya, beliau tidak marah. Beliau hanya berdoa kepada Allah, memohon diberi petunjuk terbaik. Karena kesabarannya, Allah mengabulkan permohonan beliau.
Ibnu Katsir menulis, “Penyebutan beliau (Dzul Kifli) dalam al-Qur’an dengan pujian serta bersamaan dengan para nabi ini, secara dhahir (literal) menandakan beliau adalah seorang nabi Allah. Inilah pendapat yang masyhur.”[1]
Al-Qur’an hanya menyebutkan nama Dzul Kifli saja dalam golongan para nabi. Adapun tentang dakwah, risalah, dan kaum di mana beliau diutus kepada mereka, al-Qur’an tidak menuturkan sedikitpun, baik secara global maupun spesifik. Satu hal yang penting kita perhatikan berkenaan dengan sejarah Dzul Kifli, adalah Dzul Kifli yang disebutkan dalam al-Qur’an berbeda dengan al-Kifli yang disebutkan dalam hadis. Redaksi hadis tersebut yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi yang bersumber dari Ibnu Umar adalah sebagai berikut:
Ibnu Umar berkata, “Al-Kifli adalah orang bani Isra’il yang tidak menjauhi perbuatan dosa. Konon, seorang wanita mendatanginya, lalu dia memberinya enam puluh dinar asal dia boleh menyetubuhinya. Ketika dalam posisi bersetubuh, tiba-tiba wanita itu gemetar dan menangis. Al-Kifli bertanya, “Kenapa engkau menangis? Apakah aku memaksamu?” “Tidak, tapi ini adalah perbuatan yang sama sekali belum pernah aku lakukan. Kebutuhan hidup telah memaksaku melakukan ini.” jawabnya. Al-Kifli berkata, “Apakah engkau melakukan ini, padahal engkau belum pernah melakukannya sama sekali?” Kemudian dia  turun (dari posisi semula) sambil berkata, “Pulanglah dengan membawa uang dinar milikmu.”
Kemudian Ibnu Umar berkata,  “Demi Allah, setelah kejadian itu al-Kifli tidak melakukan maksiat lagi selamanya.” Pada malam harinya al-Kifli meninggal dunia. Di pintunya tertulis, “Sungguh, Allah telah mengampuni al-Kifli.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)
Ibnu Katsir berkata, “Hadis di atas diriwayatkan oleh at-Tirmidzi. Tirmidzi berkata, ‘Hadis hasan.’ Hadis ini diriwayatkan secara marfu’ dari Ibnu Umar. Sanadnya  bermasalah. Jika hadis tersebut makhfudh, maka yang dimaksud al-Kifli di sana bukanlah Dzul Kifli. Redaksi hadis ini menyebutkan kata al-Kifli tanpa diidhafahkan (pada kata “dzu”). Jadi, al-Kifli di sini adalah orang lain yang berbeda dengan Dzul Kifli yang ada dalam al-Qur’an…”[2]
Sebagian sejarawan menyatakan, Dzul Kifli menanggung anak-anak kaumnya untuk mencukupi kebutuhan mereka dan memutuskan permasalahan mereka dengan adil. Karena itu dia diberinama Dzul Kifli. Mereka menyebutkan sebagian kisah-kisah yang berkaitan dengan pendapatnya itu. Namun, kisah-kisah ini perlu diteliti, diuji, dan diselidiki. Karena itu, kami tidak menaruh perhatian untuk mengulas kisah-kisah tersebut, mengingat sudah tercukupi dengan beberapa riwayat yang shahih. Allahlah yang memberi pertolongan dan petunjuk pada jalan yang benar.

Ayat-ayat yang menyebutkan Nabi Dzulkifli as:
QS Shad 48, Al Anbiyaa 85-86.


[1] Al-Bidayah wa An-Nihayah, Jilid I, hlm. 211; dan Tarikh At-Thabari, Jilid I, hlm. 464.
[2] Al-Bidayah wa An-Nihayah, Jilid I, hlm. 211.

Minggu, 04 Februari 2018

Nabi Ayyub, Tabah Diguncang Prahara



            Nabi Ayyub adalah putra Al Ish bin Ishaq ra dan putri Nabi Luth as. Ia mewarisi kekayaan dari ayahnya. Ia menikah dengan Rahmah putri Efrayim bin Yusuf as. Beliau diutus Allah untuk berdakwah kepada kaumnya, yaitu Hauran dan Tih.
Para ulama berbeda pendapat tentang silsilah keturunan nabi Ayyub AS, sampai-sampai Abu al-Baqa’ berkata, “Tidak satupun pendapat tentang  silsilah Ayub yang shahih.” Tetapi Ibnu Katsir menegaskan bahwa Ayyub adalah keturunan al-‘Ish putra Ishaq. Sedangkan ibunya adalah putri Luth AS. Ibnu Katsir mengutip pendapat ini dari Ibnu ‘Asakir. Dari beberapa pendapat yang ada yang paling kuat adalah pendapat Ibnu Ishaq, sebagai berikut: “Ayub adalah putra Amush bin Zarih bin al-‘Ish bin Ishaq bin Ibrahim AS.”
            Nabi Ayyub as sangat dermawan. Meskipun paling tajir di negeri Syam, beliau senang menjamu fakir miskin di sebuah meja makan yang khusus dan lengkap.
            Namun kita tahu iblis kan? Iblis sirik banget sama Ayyub. Iblis minta sama Allah untuk dikasih izin menggoda Ayyub sehingga Allah murka.
            Dasar rese, iblis mengumpulkan seluruh bala tentaranya untuk membakar rumah Ayyub. Hancur dan habislah seluruh harta Ayyub. Tapi subhanallah, Ayyub nggak goyah keimanannya.
            Masih dendam, iblis lalu merobohkan rumah Hurmula, anak tertua nabi Ayyub. Padahal semua anak Nabi Ayyub lagi ngumpul di meja makan. Karena peristiwa itu, semua anak nabi Ayyub tewas di tempat.
            Namun nabi Ayyub tidak juga goyah. Ia tetap rajin shalat, bersyukur dan berdakwah.
            Si iblis makin panas dong. Ketika Nabi Ayyub sedang shalat, iblis jahat itu meniup mulut dan hidung beliau. Tiba-tiba tubuh beliau menggembung kayak balon. Badannya berkeringat dan terasa berat.
            Tak lama beliau menderita sakit kulit parah. Badannya bau, penuh darah, nanah dan ulat. Semua orang menjauhi dan mencemoohnya. Kedua istrinya juga minta cerai, kecuali Rahmah yang tetap setia.
            Nabi Ayyub dan Rahmah tetap sabar. Beberapa kali mereka diusir dari satu kampung ke kampung lain. Untuk membiayai hidup mereka berdua, Rahmah bekerja sebagai pembantu di kampung. Namun ketika tahu Rahmah adalah istri Ayyub, mereka mengusirnya. Hanya tinggal dua belas karet rambutnya yang ia miliki. Karena sudah benar-benar tidak punya uang, karet-karet rambut itupun dijual Rahmah untuk biaya hidup.
            Setelah beberapa lama Ayyub sakit parah, Rahmah meminta agar sebagai Nabi, Ayyub berdoa kepada Allah untuk minta kesembuhan. Benarlah selesai berdoa, Allah memberi jawaban.
            Nabi Ayyub segera menjejakkan kakinya ke tanah. Sesuai janji Allah, dari tanah itu memancar air. Nabi Ayyub segera mandi dan membersihkan dirinya. Alhamdulillah...subhanallah... penyakitnya hilang nggak berbekas! Luar biasa sekali!
            Bahkan Allah juga mengembalikan harta kekayaannya seperti semula. Ayyub dan istrinya kembali kepada kebiasaan semula yaitu memberi derma kepada fakir miskin. Subhanallah yaa...
            Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang lamanya beliau menderita sakit. Ada yang bilang 3 tahun, 7 tahun beberapa bulan, dan 18 tahun. Pada waktu sakit, usianya sekitar 70 tahunan.
Ayyub hidup selama 93 tahun. Allah mengarunia beliau harta benda dan anak kerutunan. Beliau mempunyai 26 anak laki-laki, salah satunya bernama Bisyr di mana sebagian ahli sejarah menyebutnya “Dzul Kifli” yang digolongkan oleh al-Qur’an dalam kalangan para rasul. Tugas kerasulan Ayyub ditujukan kepada umat Romawi. Sebab itulah, para sejarawan menyatakan bahwa beliau termasuk umat Romawi. Tempat tinggalnya berada di daerah Damaskus dan sekitarnya, sebagaimana penjelasan sebagian ahli sejarah.


Ayat-ayat tentang Nabi Ayyub as:
QS Al Baqarah 155-156, An Nisaa 163, Al Anbiyaa 83-84, Shad 41-42.

Minggu, 21 Januari 2018

Nabi Yusuf : The Eligible Bachelor yang Lurus Hati



            Nabi Yusuf as adalah putra Nabi Ya'qub as dengan Rachel. Sejak kecil ia paling taat pada orang tuanya dan paling ganteng pula. Ibunya sudah meninggal ketika ia dan Benyamin, adiknya, masih sangat kecil. Itu sebabnya saudara-saudaranya jadi iri sama beliau.
            Suatu malam Yusuf bermimpi tentang sebelas bulan dan matahari yang bersujud padanya. Mimpi itu ia ceritakan pada ayahnya. Ayahnya yang tahu maksud mimpi itu jadi khawatir, maka ia minta agar Yusuf nggak membocorkan mimpinya ke saudara-saudaranya.
            Akan halnya, saudara-saudara Yusuf makin besar rasa bencinya. Mereka sibuk berunding, mau diapain si Yusuf ini? Ada yang usul, dibunuh aja. Ada juga yang bilang, buang aja ke tempat yang jauh. Tiba-tiba Yehuda, salah satu sauara Yusuf usul, "Kita cemplungin ke sumur aja. Nanti kalau ada orang lewat kan pasti diambil juga".       
            Yang lain setuju dengan usul itu. Makanya mereka segera membujuk ayah mereka untuk membiarkan mereka jalan-jalan sama Yusuf. Mulanya ayah mereka nggak kasih. Dia khawatir Yusuf diapa-apain sama anak-anaknya yang bangor-bangor itu. Tapi karena didesak terus, akhirnya dilepaskan juga Yusuf untuk diajak pergi bermain dengan saudara-saudaranya. Benyamin, saudara Yusuf seibu, nggak diajak. Soalnya umurnya masih terlalu kecil, lagian dia kan sekandung dengan Yusuf. Bisa rese nanti!
            Setibanya di tempat yang dituju, mereka main kucing-kucingan sambil buka baju. Lalu Yusuf mereka masukkan ke timba, dan... plung! Dia diceburkan ke dalam sumur. Bocah-bocah bangor itu berlarian pulang, setelah melumuri baju Yusuf dengan darah binatang.
            Di rumah, mereka menangis dan bilang kalau Yusuf dimakan serigala. Sudah tentu ayahnya jadi sangat sedih.
            Sementara itu di sumur tempat Yusuf diceburkan, lewatlah orang-orang Madyan yang mencari air. Pas mau menimba air, mereka merasa... kok timbanya berat banget sih? Saat mengangkat timba, mereka kaget sekali melihat ada bocah kecil yang lucu dan ganteng di situ. Hii... gemes kali ya?
            Bocah Yusuf mereka bawa ke Madyan dan diserahkan ke seorang pejabat bernama Qiftir Al Aziz untuk dijadikan budak. Karena baik dan rajin, Qiftir dan istrinya, Zulaikha, sayang padanya dan menganggapnya anak sendiri.
            Semakin dewasa, Yusuf makin kelihatan gantengnya. Zulaikha jadi jatuh hati padanya. Diam-diam Yusuf juga mulai tertarik pada istri pejabat yang masih muda dan cantik itu.
            Saat Qiftir tidak ada di rumah, Zulaikha merayunya untuk berbuat tidak senonoh. Untunglah Yusuf sangat kuat iman. Ia berlari ke laur. Tepat saat itu Qiftir masuk dan mendapati kejadian itu.
            Karena takut sama suaminya, Zulaikha membuat fitnah seolah-olah Yusuf yang kurang ajar padanya. Terjadi debat antara mereka. Dengan izin Allah, bayi Zulaikha yang belum bisa bicara, tiba-tiba ngomong memberikan kesaksian. Terbukti deh, Yusuf yang benar.
            Setelah itu, peristiwa itu menyebar kemana-mana, entah siapa yang ember. Yang jelas bukan Yusuf. Zulaikha juga tahu kalau dia digosipin. Untuk membersihkan namanya, ia mengundang para istri pejabat ke rumahnya.
            Di situ mereka disuguhi buah semacam mangga dan pisaunya sekalian. Lalu ia memanggil Yusuf. Hmm... begitu melihat ada pemuda ganteng keluar, spontan para ibu itu bengong asli! Sampai-sampai pada nggak kerasa sudah memotong tangannya!
            Sejak saat itu gosip tentang Zulaikha berhenti. Namun Qiftir tetap khawatir. Dia tahu istrinya bersalah, namun dia tetap ingin menjaga nama baiknya. Maka jalan satu-satunya adalah memenjarakan Yusuf. Alhamdulillah, kebetulan Yusuf lebih suka dipenjara.
            Di penjara, Yusuf berkenalan dengan dua pemuda. Mereka menceritakan mimpinya kepada Yusuf. Dengan ilmunya, Yusuf mentakwil/membaca arti mimpi tersebut, dan... tepat. Kalah deh mama Laurent juga!
Setelah beberapa tahun Yusuf menghabiskan waktunya di penjara, datanglah jalan keluar dari Allah. Konon, raja bermimpi yang sangat aneh dan langka. Ia bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang bagus dan gemuk keluar dari sungai, lantas menggembala di pandang rumput hijau. Kemudian dia melihat tujuh ekor sapi betina yang kurus, kerempeng, dan tidak indah dipandang keluar dari sungai dan memakan sapi-sapi yang gemuk. Demikian juga, ia melihat tujuh bulir biji-bijian yang hijau dan bagus lalu berganti dengan tujuh bulir (gandum) kering, lalu memakannya. Raja terbangun dari tidurnya karena kaget dengan mimpinya. Kamudian meminta para ahli sihir dan ulama untuk menafsirkan mimpi itu. Namun, sang raja tidak menemukan jawaban yang memuaskan.
Pada saat itu, penyaji minuman teringat kemampuan Yusuf dalam menafsirkan mimpi. Ia memohon pada raja agar memperkenankan dirinya pergi ke penjara untuk mencari informasi yang meyakinkan. Si penyaji menuman pergi menemui Yusuf dan menceritakan mimpi raja tersebut. Kemudian Yusuf menjelaskan tafsir mimpi sang raja dengan sangat mendalam.
Yusuf berkata, “Negeri ini akan mengalami masa swasembada pangan selama tujuh tahun. Selama itu tanam-tanaman tumbuh dengan subur. Setelah itu tujuh tahun kemudian akan terjadi paceklik hebat. Engkau akan makan daun-daunan hijau dan kering. Penduduk negeri ini harus mempersiapkan perbekalan selama tahun-tahun yang subur untuk menghadapi tahun-tahun paceklik dan kekeringan.” Sang raja takjub dan terheran-heran dengan penjelasan Yusuf, sampai-sampai ia memerintahkan untuk membebaskan Yusuf dari penjara kemudian menjadikan beliau penasihat ahli sekaligus mengangkatnya sebagai salah seorang mentrinya. Penghormatan sang raja ini menetapkan ketidakbersalahan Yusuf, hingga nama baik beliau terlepas dari tuduhan rendah tersebut. Orang-orang menyaksikan kebersihan beliau. Itulah puncak keluhuran jiwa dan keramat kenabian. Seyogyanya kita memperhatikan ayat-ayat berikut:
Raja berkata, ‘Bawalah dia kepadaku.’ Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, beliau berkata, ‘Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wantia yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka. Raja berkata (kepada wanita-wanita itu), ‘Bagaimana keadaanmu? Ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya?’ Mereka berkata, ‘Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui suatu keburukan darinya. Istri al-‘Aziz berkata, ‘Sekarang jelaslah kebenaran itu. Akulah yang menggodanya untuk menundukkan diriya (kepadaku), sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” (Qs. Yusuf: 50-51)
            Arti mimpi raja itu tentang bencana kelaparan yang akan terjadi di Mesir. Yusuf melengkapinya dengan solusi yang akan menyelamatkan Mesir dari bencana. Dan subhanallah... benarlah semuanya.
            Negara-negara sekitar Mesir, termasuk Kana'an (tempat saudara-saudara Yusuf tinggal) juga minta bantuan. Atas jasanya, Yusuf diangkat menjadi menteri ekonomi.
            Saudara-saudara Yusuf datang meminta bantuan. Hati beliau yang lurus dan bersih telah memaafkan mereka. Akhirnya Nabi Ya'qub as sekeluarga tinggal di Mesir.
Para ahli sejarah berkata, “Ketika Yusuf bertemu kembali dengan ayahnya setelah perpisahan, usia Ya’qub saat itu adalah 130 tahun. Tujuh belas tahun kemudian Ya’qub meninggal dunia. Sedangkan Yusuf hidup selama 110 tahun. Beliau meninggal di Mesir, saat itu Yusuf sedang memerintah- dan dimakamkan di sana. Yusuf telah berwasiat kepada saudara-saudara untuk membawa jenazahnya ketika mereka keluar dari Mesir agar dimakamkan di sisi makam ayahnya.
Pada masa Musa AS, jenazah Yusuf dipindahkan ke Syam dan dimakamkan di Neplus, ini menurut pendapat yang lebih kuat. Kewafatan Yusuf itu setelah kelahiran kakek buyutnya, Ibrahim AS, kira-kira selang 361 tahun dan sebelum kelahiran Musa AS kurang 64 tahun, menurut pendapat yang paling shahih.[1]
Di saat mendekati ajal Yusuf memohon kepada Allah, agar Dia mematikannya dalam keimanan dan supaya Allah menemukan dia dengan hamba-hamba-Nya yang saleh. Yusuf berdoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian ta’bir mimpi. Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (Qs. Yusuf: 101)
Allah mengabulkan doa Yusuf, maka Dia memindahkan beliau ke ar-Rafiq al-‘Ala. Semoga Allah menganugerahkan belas kasih-Nya yang luas dan memberikan kita kematian dalam keadaan iman. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Pengabul segala doa.

Ayat-ayat tentang Nabi Yusuf as:
QS Yuf 4-5, 8-18, 22-24, 26-28, 31, 41-42, 45-49, 54-57, 83, 88-93, 99-101.


[1] Lihat Tarikh At-Thabari, Jilid I, hlm. 330-364; Ibnu al-Atsir, Al-Kamil fii At-Tarikh, Jilid I, hlm. 78-88; dan Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, Jiliid I, hlm. 185-206.

Minggu, 26 November 2017

Nabi Ya'qub Bapak Bani Israil

Dia adalah Ya’qub putra Ishaq bin Ibrahim AS. Ibunya bernama Rifqah binti Batutsil bin Nahur bin Azar. Para sejarawan menamainya Tarih. Nahur adalah saudara Ibrahim AS. Ya’qub AS adalah ayah dari dua belas orang anak, kepada beliaulah suku bangsa bani Isra’il dinisbatkan. Ya’qub diberinama Isra’il sebagaimana firman Allah berikut:
“Semua makanan adalah halal bagi bani Isra’il selain makanan yang diharamkan oleh Isra’il (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah, ‘(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bawalah dia jika kamu orang-orang yang benar.” (Qs. Ali ‘Imran: 93)
Para pengikut kitab Taurat menuturkan bahwa Allah menamai Ya’qub Isra’il. Dalam bahasa Ibrani berarti Ruh Allah. Ini maksudnya agar kita mengetahui bahwa Isra’il adalah nama lain Ya’qub AS, sebagaimana telah kami jelaskan, dan kepadanya bangsa Yahudi dinisbatkan.
Kisah kenabian Ya'qub as dimulai dengan kepergiannya ke Fadam Aram, Babylonia, Irak, atas perintah ibunya, Rifqah. Di sana dia tinggal sama pamannya, Laban. Paman Laban sayang banget sama Ya'qub. Kebetulan pamannya ini tajir banget dan dermawan pula. Ya'qub senang mencontoh kedermawanan pamannya.
Suatu malam Ya'qub bermimpi didatangi malaikat. Malaikat itu bilang kalau kelak Ya'qub akan dikaruniai anak cucu yang bakal memimpin daerah itu. Setelah itu beliau berjanji akan membangun sebuah rumah ibadah di situ.
Paman Laban mempunyai dua putri, namanya Layya dan Rachel. Ya'qub lebih tertarik kepada Rachel. Namun karena Layya lebih tua, pamannya menjodohkannya dengan Layya.
Ya'qub menyampaikan niatnya untuk menikahi Rachel. Pamannya menolak, dan mengajukan syarat. Jika Ya'qub ingin juga nikah dengan Rachel, ia harus mengabdi dengan menggembala kambing dan bertani di tanah milik sang paman selama tujuh tahun. Lama banget ya?
Karena rasa cintanya, Ya'qub memenuhi syarat itu. So... happy ending lah. Ya'qub bisa menikahi Rachel sebagai istri keduanya. Layya dan Rachel memiliki budak bernama Balhah dan Zulfa, yang diberikan pula kepada beliau untuk dinikahi. Nabi Ya'qub kemudian dikaruniai 12 anak dari 4 istrinya.
Dari Layya: Ruben/Rabil, Syam'un, Lawi/Levi, Yehuda, Yasakir, dan Zebulon.
Dari Rachel: Yusuf (kemudian jadi Nabi juga) dan Benyamin.
Dari Balhah: Daan dan Naftali.
Dari Zulfa: Jaad dan Asyir.
Dari asbath (anak cucu) ini kelak lahir beberapa nabi:
Dari asbath Levi: Nabi Musa, Harun, Ilyas, Ilyasa.
Dari asbath Yehuda: Daud, Sulaiman, Zakaria, Yahya, Isa.
Dari asbath Benyamin: Yunus.
Setiap putra nabi Ya’qub AS menjadi bapak dari anak cucu bani Isra’il. Para sejarawan menyatakan, masing-masing putra Ya’qub dikaruniai anak ketika beliau berada di Iraq, ketika tinggal bersama pamannya untuk menggembala domba, selain Bunyamin. Bunyamin dilahirkan setelah Ya’qub kembali ke tempat kelahiran beliau, di daerah Ka’an, Palestina.
Setelah 20 tahun tinggal bersama pamannya, Nabi Ya'qub kembali ke kampung halamannya. Saudaranya menyambut dengan 400 orang sehingga bikin dia lumayan ngeper. Maka dia mendoakannya serta menyiapkan hadiah yang banyak untuk melunakkan hati saudaranya.
Akhirnya mereka berbaikan. Sang kakak menyingkir ke gunung Sa'ir. Ya'qub tinggal di kota Hebron yang dikenal dengan nama Al Khalil.
Penglihatan Ya’qub AS terganggu karena terlalu sering memikirkan putranya, Yusuf AS, yang telah dianiaya oleh saudara-saudaranya. Namun, kemudian Allah mengembalikan penglihatannya setelah bertemu dengan Yusuf, setelah sekian lama berpisah, dan mengalami penderitaan dan kesedihan yang hebat. Hal ini seperti difirmankan oleh Allah, “Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu dia dapat melihat kembali.” (Qs. Yusuf: 96). Beliau bertemu kembali dengan Yusuf di Mesir. Ya’qub meninggal dunia pada usia 147 tahun, bertepatan dengan 17 tahun setelah berkumpul kembali dengan putra tercinta, Yusuf. Ya’qub berwasiat kepada Yusuf, agar jenazahnya dimakamkan bersama bapak  beliau, Ishaq. Dan, Yusuf pun melaksanakan wasiat itu. Beliau berjalan menuju Palestina dan memakamkan jenazah Ya’qub di sisi ayahnya  di sebuah gua di Hebron, kota al-Khalil.

Ayat-ayat tentang Nabi Ya'qub as:
QS Shad 45-47.