Minggu, 04 Februari 2018

Nabi Ayyub, Tabah Diguncang Prahara



            Nabi Ayyub adalah putra Al Ish bin Ishaq ra dan putri Nabi Luth as. Ia mewarisi kekayaan dari ayahnya. Ia menikah dengan Rahmah putri Efrayim bin Yusuf as. Beliau diutus Allah untuk berdakwah kepada kaumnya, yaitu Hauran dan Tih.
Para ulama berbeda pendapat tentang silsilah keturunan nabi Ayyub AS, sampai-sampai Abu al-Baqa’ berkata, “Tidak satupun pendapat tentang  silsilah Ayub yang shahih.” Tetapi Ibnu Katsir menegaskan bahwa Ayyub adalah keturunan al-‘Ish putra Ishaq. Sedangkan ibunya adalah putri Luth AS. Ibnu Katsir mengutip pendapat ini dari Ibnu ‘Asakir. Dari beberapa pendapat yang ada yang paling kuat adalah pendapat Ibnu Ishaq, sebagai berikut: “Ayub adalah putra Amush bin Zarih bin al-‘Ish bin Ishaq bin Ibrahim AS.”
            Nabi Ayyub as sangat dermawan. Meskipun paling tajir di negeri Syam, beliau senang menjamu fakir miskin di sebuah meja makan yang khusus dan lengkap.
            Namun kita tahu iblis kan? Iblis sirik banget sama Ayyub. Iblis minta sama Allah untuk dikasih izin menggoda Ayyub sehingga Allah murka.
            Dasar rese, iblis mengumpulkan seluruh bala tentaranya untuk membakar rumah Ayyub. Hancur dan habislah seluruh harta Ayyub. Tapi subhanallah, Ayyub nggak goyah keimanannya.
            Masih dendam, iblis lalu merobohkan rumah Hurmula, anak tertua nabi Ayyub. Padahal semua anak Nabi Ayyub lagi ngumpul di meja makan. Karena peristiwa itu, semua anak nabi Ayyub tewas di tempat.
            Namun nabi Ayyub tidak juga goyah. Ia tetap rajin shalat, bersyukur dan berdakwah.
            Si iblis makin panas dong. Ketika Nabi Ayyub sedang shalat, iblis jahat itu meniup mulut dan hidung beliau. Tiba-tiba tubuh beliau menggembung kayak balon. Badannya berkeringat dan terasa berat.
            Tak lama beliau menderita sakit kulit parah. Badannya bau, penuh darah, nanah dan ulat. Semua orang menjauhi dan mencemoohnya. Kedua istrinya juga minta cerai, kecuali Rahmah yang tetap setia.
            Nabi Ayyub dan Rahmah tetap sabar. Beberapa kali mereka diusir dari satu kampung ke kampung lain. Untuk membiayai hidup mereka berdua, Rahmah bekerja sebagai pembantu di kampung. Namun ketika tahu Rahmah adalah istri Ayyub, mereka mengusirnya. Hanya tinggal dua belas karet rambutnya yang ia miliki. Karena sudah benar-benar tidak punya uang, karet-karet rambut itupun dijual Rahmah untuk biaya hidup.
            Setelah beberapa lama Ayyub sakit parah, Rahmah meminta agar sebagai Nabi, Ayyub berdoa kepada Allah untuk minta kesembuhan. Benarlah selesai berdoa, Allah memberi jawaban.
            Nabi Ayyub segera menjejakkan kakinya ke tanah. Sesuai janji Allah, dari tanah itu memancar air. Nabi Ayyub segera mandi dan membersihkan dirinya. Alhamdulillah...subhanallah... penyakitnya hilang nggak berbekas! Luar biasa sekali!
            Bahkan Allah juga mengembalikan harta kekayaannya seperti semula. Ayyub dan istrinya kembali kepada kebiasaan semula yaitu memberi derma kepada fakir miskin. Subhanallah yaa...
            Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang lamanya beliau menderita sakit. Ada yang bilang 3 tahun, 7 tahun beberapa bulan, dan 18 tahun. Pada waktu sakit, usianya sekitar 70 tahunan.
Ayyub hidup selama 93 tahun. Allah mengarunia beliau harta benda dan anak kerutunan. Beliau mempunyai 26 anak laki-laki, salah satunya bernama Bisyr di mana sebagian ahli sejarah menyebutnya “Dzul Kifli” yang digolongkan oleh al-Qur’an dalam kalangan para rasul. Tugas kerasulan Ayyub ditujukan kepada umat Romawi. Sebab itulah, para sejarawan menyatakan bahwa beliau termasuk umat Romawi. Tempat tinggalnya berada di daerah Damaskus dan sekitarnya, sebagaimana penjelasan sebagian ahli sejarah.


Ayat-ayat tentang Nabi Ayyub as:
QS Al Baqarah 155-156, An Nisaa 163, Al Anbiyaa 83-84, Shad 41-42.

Minggu, 21 Januari 2018

Nabi Yusuf : The Eligible Bachelor yang Lurus Hati



            Nabi Yusuf as adalah putra Nabi Ya'qub as dengan Rachel. Sejak kecil ia paling taat pada orang tuanya dan paling ganteng pula. Ibunya sudah meninggal ketika ia dan Benyamin, adiknya, masih sangat kecil. Itu sebabnya saudara-saudaranya jadi iri sama beliau.
            Suatu malam Yusuf bermimpi tentang sebelas bulan dan matahari yang bersujud padanya. Mimpi itu ia ceritakan pada ayahnya. Ayahnya yang tahu maksud mimpi itu jadi khawatir, maka ia minta agar Yusuf nggak membocorkan mimpinya ke saudara-saudaranya.
            Akan halnya, saudara-saudara Yusuf makin besar rasa bencinya. Mereka sibuk berunding, mau diapain si Yusuf ini? Ada yang usul, dibunuh aja. Ada juga yang bilang, buang aja ke tempat yang jauh. Tiba-tiba Yehuda, salah satu sauara Yusuf usul, "Kita cemplungin ke sumur aja. Nanti kalau ada orang lewat kan pasti diambil juga".       
            Yang lain setuju dengan usul itu. Makanya mereka segera membujuk ayah mereka untuk membiarkan mereka jalan-jalan sama Yusuf. Mulanya ayah mereka nggak kasih. Dia khawatir Yusuf diapa-apain sama anak-anaknya yang bangor-bangor itu. Tapi karena didesak terus, akhirnya dilepaskan juga Yusuf untuk diajak pergi bermain dengan saudara-saudaranya. Benyamin, saudara Yusuf seibu, nggak diajak. Soalnya umurnya masih terlalu kecil, lagian dia kan sekandung dengan Yusuf. Bisa rese nanti!
            Setibanya di tempat yang dituju, mereka main kucing-kucingan sambil buka baju. Lalu Yusuf mereka masukkan ke timba, dan... plung! Dia diceburkan ke dalam sumur. Bocah-bocah bangor itu berlarian pulang, setelah melumuri baju Yusuf dengan darah binatang.
            Di rumah, mereka menangis dan bilang kalau Yusuf dimakan serigala. Sudah tentu ayahnya jadi sangat sedih.
            Sementara itu di sumur tempat Yusuf diceburkan, lewatlah orang-orang Madyan yang mencari air. Pas mau menimba air, mereka merasa... kok timbanya berat banget sih? Saat mengangkat timba, mereka kaget sekali melihat ada bocah kecil yang lucu dan ganteng di situ. Hii... gemes kali ya?
            Bocah Yusuf mereka bawa ke Madyan dan diserahkan ke seorang pejabat bernama Qiftir Al Aziz untuk dijadikan budak. Karena baik dan rajin, Qiftir dan istrinya, Zulaikha, sayang padanya dan menganggapnya anak sendiri.
            Semakin dewasa, Yusuf makin kelihatan gantengnya. Zulaikha jadi jatuh hati padanya. Diam-diam Yusuf juga mulai tertarik pada istri pejabat yang masih muda dan cantik itu.
            Saat Qiftir tidak ada di rumah, Zulaikha merayunya untuk berbuat tidak senonoh. Untunglah Yusuf sangat kuat iman. Ia berlari ke laur. Tepat saat itu Qiftir masuk dan mendapati kejadian itu.
            Karena takut sama suaminya, Zulaikha membuat fitnah seolah-olah Yusuf yang kurang ajar padanya. Terjadi debat antara mereka. Dengan izin Allah, bayi Zulaikha yang belum bisa bicara, tiba-tiba ngomong memberikan kesaksian. Terbukti deh, Yusuf yang benar.
            Setelah itu, peristiwa itu menyebar kemana-mana, entah siapa yang ember. Yang jelas bukan Yusuf. Zulaikha juga tahu kalau dia digosipin. Untuk membersihkan namanya, ia mengundang para istri pejabat ke rumahnya.
            Di situ mereka disuguhi buah semacam mangga dan pisaunya sekalian. Lalu ia memanggil Yusuf. Hmm... begitu melihat ada pemuda ganteng keluar, spontan para ibu itu bengong asli! Sampai-sampai pada nggak kerasa sudah memotong tangannya!
            Sejak saat itu gosip tentang Zulaikha berhenti. Namun Qiftir tetap khawatir. Dia tahu istrinya bersalah, namun dia tetap ingin menjaga nama baiknya. Maka jalan satu-satunya adalah memenjarakan Yusuf. Alhamdulillah, kebetulan Yusuf lebih suka dipenjara.
            Di penjara, Yusuf berkenalan dengan dua pemuda. Mereka menceritakan mimpinya kepada Yusuf. Dengan ilmunya, Yusuf mentakwil/membaca arti mimpi tersebut, dan... tepat. Kalah deh mama Laurent juga!
Setelah beberapa tahun Yusuf menghabiskan waktunya di penjara, datanglah jalan keluar dari Allah. Konon, raja bermimpi yang sangat aneh dan langka. Ia bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang bagus dan gemuk keluar dari sungai, lantas menggembala di pandang rumput hijau. Kemudian dia melihat tujuh ekor sapi betina yang kurus, kerempeng, dan tidak indah dipandang keluar dari sungai dan memakan sapi-sapi yang gemuk. Demikian juga, ia melihat tujuh bulir biji-bijian yang hijau dan bagus lalu berganti dengan tujuh bulir (gandum) kering, lalu memakannya. Raja terbangun dari tidurnya karena kaget dengan mimpinya. Kamudian meminta para ahli sihir dan ulama untuk menafsirkan mimpi itu. Namun, sang raja tidak menemukan jawaban yang memuaskan.
Pada saat itu, penyaji minuman teringat kemampuan Yusuf dalam menafsirkan mimpi. Ia memohon pada raja agar memperkenankan dirinya pergi ke penjara untuk mencari informasi yang meyakinkan. Si penyaji menuman pergi menemui Yusuf dan menceritakan mimpi raja tersebut. Kemudian Yusuf menjelaskan tafsir mimpi sang raja dengan sangat mendalam.
Yusuf berkata, “Negeri ini akan mengalami masa swasembada pangan selama tujuh tahun. Selama itu tanam-tanaman tumbuh dengan subur. Setelah itu tujuh tahun kemudian akan terjadi paceklik hebat. Engkau akan makan daun-daunan hijau dan kering. Penduduk negeri ini harus mempersiapkan perbekalan selama tahun-tahun yang subur untuk menghadapi tahun-tahun paceklik dan kekeringan.” Sang raja takjub dan terheran-heran dengan penjelasan Yusuf, sampai-sampai ia memerintahkan untuk membebaskan Yusuf dari penjara kemudian menjadikan beliau penasihat ahli sekaligus mengangkatnya sebagai salah seorang mentrinya. Penghormatan sang raja ini menetapkan ketidakbersalahan Yusuf, hingga nama baik beliau terlepas dari tuduhan rendah tersebut. Orang-orang menyaksikan kebersihan beliau. Itulah puncak keluhuran jiwa dan keramat kenabian. Seyogyanya kita memperhatikan ayat-ayat berikut:
Raja berkata, ‘Bawalah dia kepadaku.’ Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, beliau berkata, ‘Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wantia yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka. Raja berkata (kepada wanita-wanita itu), ‘Bagaimana keadaanmu? Ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya?’ Mereka berkata, ‘Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui suatu keburukan darinya. Istri al-‘Aziz berkata, ‘Sekarang jelaslah kebenaran itu. Akulah yang menggodanya untuk menundukkan diriya (kepadaku), sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” (Qs. Yusuf: 50-51)
            Arti mimpi raja itu tentang bencana kelaparan yang akan terjadi di Mesir. Yusuf melengkapinya dengan solusi yang akan menyelamatkan Mesir dari bencana. Dan subhanallah... benarlah semuanya.
            Negara-negara sekitar Mesir, termasuk Kana'an (tempat saudara-saudara Yusuf tinggal) juga minta bantuan. Atas jasanya, Yusuf diangkat menjadi menteri ekonomi.
            Saudara-saudara Yusuf datang meminta bantuan. Hati beliau yang lurus dan bersih telah memaafkan mereka. Akhirnya Nabi Ya'qub as sekeluarga tinggal di Mesir.
Para ahli sejarah berkata, “Ketika Yusuf bertemu kembali dengan ayahnya setelah perpisahan, usia Ya’qub saat itu adalah 130 tahun. Tujuh belas tahun kemudian Ya’qub meninggal dunia. Sedangkan Yusuf hidup selama 110 tahun. Beliau meninggal di Mesir, saat itu Yusuf sedang memerintah- dan dimakamkan di sana. Yusuf telah berwasiat kepada saudara-saudara untuk membawa jenazahnya ketika mereka keluar dari Mesir agar dimakamkan di sisi makam ayahnya.
Pada masa Musa AS, jenazah Yusuf dipindahkan ke Syam dan dimakamkan di Neplus, ini menurut pendapat yang lebih kuat. Kewafatan Yusuf itu setelah kelahiran kakek buyutnya, Ibrahim AS, kira-kira selang 361 tahun dan sebelum kelahiran Musa AS kurang 64 tahun, menurut pendapat yang paling shahih.[1]
Di saat mendekati ajal Yusuf memohon kepada Allah, agar Dia mematikannya dalam keimanan dan supaya Allah menemukan dia dengan hamba-hamba-Nya yang saleh. Yusuf berdoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian ta’bir mimpi. Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (Qs. Yusuf: 101)
Allah mengabulkan doa Yusuf, maka Dia memindahkan beliau ke ar-Rafiq al-‘Ala. Semoga Allah menganugerahkan belas kasih-Nya yang luas dan memberikan kita kematian dalam keadaan iman. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Pengabul segala doa.

Ayat-ayat tentang Nabi Yusuf as:
QS Yuf 4-5, 8-18, 22-24, 26-28, 31, 41-42, 45-49, 54-57, 83, 88-93, 99-101.


[1] Lihat Tarikh At-Thabari, Jilid I, hlm. 330-364; Ibnu al-Atsir, Al-Kamil fii At-Tarikh, Jilid I, hlm. 78-88; dan Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, Jiliid I, hlm. 185-206.

Minggu, 26 November 2017

Nabi Ya'qub Bapak Bani Israil

Dia adalah Ya’qub putra Ishaq bin Ibrahim AS. Ibunya bernama Rifqah binti Batutsil bin Nahur bin Azar. Para sejarawan menamainya Tarih. Nahur adalah saudara Ibrahim AS. Ya’qub AS adalah ayah dari dua belas orang anak, kepada beliaulah suku bangsa bani Isra’il dinisbatkan. Ya’qub diberinama Isra’il sebagaimana firman Allah berikut:
“Semua makanan adalah halal bagi bani Isra’il selain makanan yang diharamkan oleh Isra’il (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah, ‘(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bawalah dia jika kamu orang-orang yang benar.” (Qs. Ali ‘Imran: 93)
Para pengikut kitab Taurat menuturkan bahwa Allah menamai Ya’qub Isra’il. Dalam bahasa Ibrani berarti Ruh Allah. Ini maksudnya agar kita mengetahui bahwa Isra’il adalah nama lain Ya’qub AS, sebagaimana telah kami jelaskan, dan kepadanya bangsa Yahudi dinisbatkan.
Kisah kenabian Ya'qub as dimulai dengan kepergiannya ke Fadam Aram, Babylonia, Irak, atas perintah ibunya, Rifqah. Di sana dia tinggal sama pamannya, Laban. Paman Laban sayang banget sama Ya'qub. Kebetulan pamannya ini tajir banget dan dermawan pula. Ya'qub senang mencontoh kedermawanan pamannya.
Suatu malam Ya'qub bermimpi didatangi malaikat. Malaikat itu bilang kalau kelak Ya'qub akan dikaruniai anak cucu yang bakal memimpin daerah itu. Setelah itu beliau berjanji akan membangun sebuah rumah ibadah di situ.
Paman Laban mempunyai dua putri, namanya Layya dan Rachel. Ya'qub lebih tertarik kepada Rachel. Namun karena Layya lebih tua, pamannya menjodohkannya dengan Layya.
Ya'qub menyampaikan niatnya untuk menikahi Rachel. Pamannya menolak, dan mengajukan syarat. Jika Ya'qub ingin juga nikah dengan Rachel, ia harus mengabdi dengan menggembala kambing dan bertani di tanah milik sang paman selama tujuh tahun. Lama banget ya?
Karena rasa cintanya, Ya'qub memenuhi syarat itu. So... happy ending lah. Ya'qub bisa menikahi Rachel sebagai istri keduanya. Layya dan Rachel memiliki budak bernama Balhah dan Zulfa, yang diberikan pula kepada beliau untuk dinikahi. Nabi Ya'qub kemudian dikaruniai 12 anak dari 4 istrinya.
Dari Layya: Ruben/Rabil, Syam'un, Lawi/Levi, Yehuda, Yasakir, dan Zebulon.
Dari Rachel: Yusuf (kemudian jadi Nabi juga) dan Benyamin.
Dari Balhah: Daan dan Naftali.
Dari Zulfa: Jaad dan Asyir.
Dari asbath (anak cucu) ini kelak lahir beberapa nabi:
Dari asbath Levi: Nabi Musa, Harun, Ilyas, Ilyasa.
Dari asbath Yehuda: Daud, Sulaiman, Zakaria, Yahya, Isa.
Dari asbath Benyamin: Yunus.
Setiap putra nabi Ya’qub AS menjadi bapak dari anak cucu bani Isra’il. Para sejarawan menyatakan, masing-masing putra Ya’qub dikaruniai anak ketika beliau berada di Iraq, ketika tinggal bersama pamannya untuk menggembala domba, selain Bunyamin. Bunyamin dilahirkan setelah Ya’qub kembali ke tempat kelahiran beliau, di daerah Ka’an, Palestina.
Setelah 20 tahun tinggal bersama pamannya, Nabi Ya'qub kembali ke kampung halamannya. Saudaranya menyambut dengan 400 orang sehingga bikin dia lumayan ngeper. Maka dia mendoakannya serta menyiapkan hadiah yang banyak untuk melunakkan hati saudaranya.
Akhirnya mereka berbaikan. Sang kakak menyingkir ke gunung Sa'ir. Ya'qub tinggal di kota Hebron yang dikenal dengan nama Al Khalil.
Penglihatan Ya’qub AS terganggu karena terlalu sering memikirkan putranya, Yusuf AS, yang telah dianiaya oleh saudara-saudaranya. Namun, kemudian Allah mengembalikan penglihatannya setelah bertemu dengan Yusuf, setelah sekian lama berpisah, dan mengalami penderitaan dan kesedihan yang hebat. Hal ini seperti difirmankan oleh Allah, “Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu dia dapat melihat kembali.” (Qs. Yusuf: 96). Beliau bertemu kembali dengan Yusuf di Mesir. Ya’qub meninggal dunia pada usia 147 tahun, bertepatan dengan 17 tahun setelah berkumpul kembali dengan putra tercinta, Yusuf. Ya’qub berwasiat kepada Yusuf, agar jenazahnya dimakamkan bersama bapak  beliau, Ishaq. Dan, Yusuf pun melaksanakan wasiat itu. Beliau berjalan menuju Palestina dan memakamkan jenazah Ya’qub di sisi ayahnya  di sebuah gua di Hebron, kota al-Khalil.

Ayat-ayat tentang Nabi Ya'qub as:
QS Shad 45-47.

Minggu, 05 November 2017

Nabi Ishaq, Sang Putra Kedua Ibrahim

Saat Nabi Ibrahim as dan istrinya Sarah sudah sangat tua (Nabi Ibrahim sudah berumur 100 tahun, ngebayang nggak?), Allah memberikan berita gembira dan mengejutkan. Sarah hamil! Tak terbayangkan bahagianya pasangan suami istri itu.
Ketika lahir, anak mereka dinamai Ishaq. Ishaq tumbuh menjadi anak berperangai baik. Sejak remaja ia membantu ayahnya berdakwah di daerah Kana'an, Palestina. Allah mengangkatnya menjadi Nabi untuk masyarakat Kana'an.
Ketika ia sudah siap menikah, ayahnya menjodohkannya dengan seorang perempuan shalehat bernama Rifqah binti Bitawael bin Nahur. Lebih dahulu Nabi Ibrahim meminta seorang pelayannya pergi ke Harran, Irak, untuk menjumpai saudaranya, kemudian memilihkan jodoh terbaik bagi Ishaq. Nahur adalah saudara kandung Nabi Ibrahim. Ibrahim tidak menginginkan anaknya menikah dengan perempuan Kana'an, sebab mereka kebanyakan belum beriman dan kurang baik.
Pernikahan Ishaq dan Rifqah dikaruniai dua putra, Aisu (Al Ish) dan Ya'qub (Israil). Mereka lahir setelah 10-20 tahun pernikahan ayah dan ibunya. Ya'qub kemudian jadi nabi juga. Dari keturunannya itu lahirlah nabi-nabi dari kalangan Bani Israil.
Nabi Ishaq lebih dekat dengan Aisu karena ia anak sulung. Rifqah, sang ibu, lebih dekat dengan Ya'qub karena anak bungsu. Tapi bukan berarti beliau berdua pilih kasih lho.
Suatu hari Nabi Ishaq minta Aisu mengambilkan makanan untuknya. Tapi Ya'qub lebih cepat melayani ayahnya. Beliau senang sekali dan mendoakannya. Akibatnya Aisu jadi marah. Supaya nggak jadi ribut, Rifqah menyuruh Ya'qub pergi ke rumah bibi dan pamannya di Irak.

Ishaq hidup selama 180 tahun dan wafat di daerah Kan’aniy. Beliau dimakamkan di al-Khalil, Hebron, di sebuah gua, tempat Ibrahim dimakamkan.

Ayat-ayat tentang kisah Nabi Ishaq as:
QS Ash Shaffat 112-113, Shad 45-47, Hud 71-73.

Minggu, 22 Oktober 2017

Nabi Hud dan Angin Panas bagi Kaum Ad

Nabi Hud adalah utusan Allah yang dikirim kepada kaum 'Ad yang mendiami daerah Al Ahqaf. Menurut para ahli sejarah, daerah Al Ahqaf itu letaknya diantara Yaman dan Amman (Yordania) sampai Hadramaut dan Asy Syajar. Allah mengutus Hud pada satu kabilah besar bangsa 'Amaliq (suku bangsa yang tinggal di sebelah utara Palestina kuno-terj) yang disebut dengan kabilah atau kaum 'Ad. Berkenaan dengan kaum 'Ad al-Qur'an menuturkan:
"Kaum 'Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka berkata: 'Mengapa kamu tidak bertakwa?" (Qs. As-Syu'ara': 123-124)
Kaum 'Ad adalah salah satu kabilah Arab yang telah punah, keturunan dari Sam bin Nuh. Kaum ini dinamakan dengan 'Ad sebab dinisbatkan pada salah seorang kakek mereka, yaitu 'Ad bin 'Iwadh bin Arim bin Sam.
Sebenarnya 'Ad adalah nama seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan kuat. Tingginya sampai seratus hasta. Saking gedenya, kepalanya terlihat seperti kubah dan kedua matanya bagai pintu dua buah kota. Ad dan anak cucunya membangun sebuah kota dengan tiang-tiang yang kokoh, diberi nama Iram.
Kaum 'Ad membentuk keluarga dan membuat ciri biar ketahuan jelas keluarga 'Ad-nya. Soalnya mereka bangga banget dengan silsilahnya. Tanda itu ada di dahi dan ubun-ubun. Mereka terkenal bukan hanya karena kekuatan fisik, tapi juga karena kecerdasannya. Sayang banget mereka malah kufur dan suka menyembah berhala. Berhala yang mereka sembah ada tiga yaitu: Shada', Shamud, dan Al Haba'.
Nabi Hud juga termasuk kaum 'Ad dan berasal dari keluarga terhormat. Secara fisik dan intelektual ia juga memiliki ciri-ciri istimewa kaum 'Ad. Namun wajahnya ramah dan ceria.
Silsilah Nabi Hud
Dia adalah Hud AS putra Abdullah bin Rabbah bin al-Khulud bin 'Ad, kakek buyut kaumnya. Nasab beliau bersambung hingga ke Sam bin Nuh AS. Nasab ini berdasarkan keterangan yang dipilih oleh Ibnu Jarir. Ibnu Ishaq menyebutkan nasab keturunan Hud yang berbeda dengan nasab di atas.
Pekerjaan kaum 'Ad adalah petani pengolah tanah yang ulet. Nggak heran tanahnya jadi subur sekali. Mereka jadi kaya raya dan makmur. Mereka gemar membangun gedung-gedung mewah di kota. Oleh Allah mereka dikaruniai harta benda dan kemewahan dunia.
Fisik kaum 'Ad sangat kuat dan tempat tinggal mereka sangat besar dan kuat. Jika mereka berjalan, tanah yang ada di bawah telapak mereka akan bergetar karena menyangga bobot mereka yang berat. Mereka ibarat gunung karena saking tinggi dan besarnya. Namun, mereka tertipu oleh kekuatan tersebut dan sombong kepada Allah.
Sayang banget mereka jadi sombong dan belagu. Boro-bor mau bersyukur. Sukanya saling menyombongkan diri, suka saling memfitnah, dan menurutkan hawa nafsu. Mereka juga hobi banget berantem.
Yang nyebelin lagi, mereka malah menyembah berhala yang mereka anggap sebagai perantara Tuhan, katanya sih bisa memberi syafaat/pertolongan ke mereka. Nama berhalanya Shada, Shamud, dan Al Haba.
Nabi Hud tidak bosan berdakwah kepada mereka. Tapi pemimpin-pemimpin mereka malah mencela dan menghina Nabi Nuh dengan kata-kata kasar dan tidak sopan. Mereka tetap nggak percaya kalau Nabi Hud itu nabi beneran!
Allah kemudian menurunkan azab awalan kepada kaum 'Ad. Daerah mereka yang tadinya subur, banyak hujan, sekarang tandus. Allah memberhentikan hujan selama 3 tahun. Huaaa... kering banget kan?
Dasar mereka memang wataknya keras dan sombong. Sudah ditimpa musibah begitu, mereka tetap saja nggak beriman. Meski Nabi Hud juga tetap gigih menyeru.
Mereka mengirimkan utusan dipimpin Qil bin 'Anzah untuk meminta hujan ke tanah Haram. Di tengah jalan mereka ketemu seseorang bernama Mu'awiyah bin Bakar.
Dasar dodol, mereka malah berpesta minuman keras dan menonton tarian syahwat dari budak-budak perempuan. Qil bin 'Anzah lah yang pertama ingat misi mereka sebenarnya.
Di perjalanan, Qil bin 'Anzah melihat tiga gumpalan awan. Warnanya ada yang putih, merah, dan hitam. Tiba-tiba terdengar suara dari langit, "Kamu pilih awan yang mana?"
Qil yakin kalau awan hitam itu berisi mendung yang akan menghasilkan hujan. Maka dengan pedenya dia memilih awan hitam.
Awan hitam itu sampai di Iram. Ada seorang perempuan yang pertama melihatnya, malah berteriak keras sampai pingsan. Ia bilang, "Aku lihat angin yang bertiup kayak bola api yang dikawal beberapa laki-laki!"
Kaum 'Ad mengira itulah awan hujan. Mereka nggak percaya perkataan Nabi Hud kalau itu azab Allah.
Allah mengirim awan yang sangat tebal dari langit. Tatkala kaum 'Ad melihat awan itu mereka senang dan bergembira, dan mengira akan turun hujan lebat. Mereka menyangka Allah telah melimpahkan rahmat-Nya dan mengabulkan permohonannya. Ketika awan tersebut menjadi gelap, mereka melihat awan itu sangat hitam legam, lalu angin menerpa mereka .
Benar juga. Angin keluar semakin kencang dari awan hitam itu, berupa halaqih yaitu angin yang dingiiiin sekali dan sama sekali nggak bawa hujan.
Angin dingin itu mematikan. Ibaratnya orang masuk ke guapun, angin itu akan tetap nguber orang itu sampai membunuhnya.

Finally, Allah mengazab kaum 'Ad dengan azab yang lebih pedih. Ditiupkan angin kencang yang panas selama delapan hari tujuh malam. Saking panasnya, angin itu bisa membakar manusia! Kaum Ad itu semua binasa. Mayat-mayat beterbangan dan bergelimpangan di tanah yang tadinya subur makmur itu.
Akan halnya Nabi Hud dan kaumnya sebelumnya telah diam-diam meninggalkan daerah itu. Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa Nabi Hud menjauhi kaum Ad dan menetap di Mekkah hingga wafat dan dimakamkan di sana.
Allah memerintahkan Nabi Hud dan orang-orang yang beriman untuk menyelamatkan diri melewati sebuah dermaga. Ajaib sekali, ketika mendekati dermaga tersebut, angin berubah menjadi lembut dan sejuk.
Nabi Hud dan orang-orang mukmin berhasil meninggalkan Iram. Beliau hidup hingga seratus lima puluh tahun setelah kejadian itu. Beliau dimakamkan di Hadramaut.
Beliau wafat pada usia 472 tahun. Jenazahnya dimakamkan di sebelah timur Hadramaut.

Ayat-ayat yang mengisahkan Nabi Hud as. dan kaum 'Ad:
QS Al A'raaf 65, Hud 50, Asy Syuaraa 128-135, Hud 52, Al Haqqah 6-8.

Minggu, 13 Agustus 2017

Nabi Shaleh dan Unta Ajaib

Nabi Shaleh as masih keturunan Sam bin Nuh as. Dia diutus Allah swt untuk berdakwah kepada kaum Tsamud yang masih sama-sama keturunan Sam bin Nuh. Silsilahnya Shaleh bin Abaid bin Asaf bin Masyih bin Abid bin Hadzir bin Tsamud bin Shaleh bin Arfashad bin Sam bin Nuh. Kalau silsilahnya Tsamud itu: Tsamud bin 'Ad bin Irmi bin Shaleh bin Arfashad bin Sam bin Nuh. Coba deh kamu bikin silsilah keluargamu, ribet nggak?
Dia adalah Shaleh putra ‘Ubaid bin Asaf. Nasabnya bersambung hingga Sam bin Nuh. Shaleh diutus oleh Allah pada satu kabilah Arab yang telah punah, yaitu kabilah Tsamud. Kabilah ini dinamakan Tsamud karena dinisbatkan pada salah satu kekek mereka yang bernama Tsamud bin ‘Amir, salah seorang putra Sam bin Nuh.
Menurut satu pendapat, bangsa Arab yang hidup sebelum nabi Isma’il AS disebut Arab al-‘Aribah. Mereka terdiri dari banyak kabilah, di antaranya Tsamud, Jurhum, Madyan, Qahthan, dan seterusnya.
Adapun bangsa Arab Musta’ribah adalah anak keturunan Isma’il bin Ibrahim. Jadi, nabi Isma’il adalah orang pertama yang menggunakan bahasa Arab fushha yang baligh. Beliau mempelajari bahasa Arab dari kabilah Jurhum yang hidup bersama ibunya, Hajar, di Mekah.[1] Ini artinya kabilah Tsamud ada sebelum Isma’il AS dan mereka termasuk bangsa Arab al-‘Aribah.
Tempat tinggal kaum Tsamud
Pemukiman kaum Tsamud berada di daerah Hijr, karena itu Allah menamai mereka dalam al-Qur’an Ashab al-Hijr (penduduk kota Hijr). Allah berfirman:
Dan sesungguhnya penduduk-penduduk kota al-Hijr telah mendustakan rasul-rasulnya. Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami, tetapi mereka selalu berpaling darinya.” (Qs. Al-Hijr: 80-81)
Adapun daerah Hijr sendiri terletak di antara Hijaz dan Syam. Daerah ini sering dilewati oleh para musafir yang melalui jalur darat. Daerah ini sekarang terkenal dengan nama “Fajj an-Naqah”. Peninggalan purbakala berupa bangunan kaum Tsamud masih ada hingga kini dan dinamankan “Mada’in Shaleh” (Kota-kota nabi Shaleh).
Al-Mas’udiy berkata, “Bangunan-bangunan kaum Tsamud masih tersisa dan peninggalan mereka terlihat di jalur yang dilewati orang dari Syam. Hijr kaum Tsamud berada di sebelah tenggara Madyan, berdekatan dengan teluk al-‘Aqabah.”
Asal-usul kaum Tsamud
Para sejarawan berbeda pendapat dalam menentukan asal-muasal kaum Tsamud dan kapan mereka ada. Sebagian sejarawan berpendapat, kaum Tsamud adalah sisa kaum ‘Ad yang masih hidup. Sejarawan lainnya menyebutkan, bahwa kaum Tsamud merupakan sisa dari suku bangsa ‘Amaliq yang bermigrasi ke daerah Hijr melalui jalur selatan Furat.
Sebagian sejarawan orientalis berpendapat bahwa kaum Tsamud adalah bangsa Yahudi yang tinggal di sekitar wilayah Hijr dan belum masuk ke daerah Palestina. Pendapat orientalis ini keliru, karena bangsa Yahudi belum dikenal kecuali setelah Musa AS keluar bersama bani Isra’il dari negeri Mesir. Bagaimana mungkin kaum Tsamud itu bangsa Yahudi?
Pendapat yang paling shahih adalah bahwa kaum Tsamud adalah orang-orang Arab dari kaum ‘Ad yang masih tersisa. Pendapat ini diperkuat dengan firman Allah melalui lisan nabi-Nya, Shaleh AS:
Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikanmu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (Qs. Al-A’raf: 74)
Ibnu Katsir menulis: “Mereka adalah kabilah terkenal yang disebut Tsamud sesuai dengan nama kakek mereka, Tsamud saudara Judais. Kaum Tsamud termasuk bangsa Arab al-‘Aribah yang tinggal di daerah Hijr, yang terletak di antara Hijaz dan Tabuk. Rasulullah pernah melewati tempat ini ketika beliau pergi ke Tabuk bersama kaum muslimin. Di saat mereka sampai di Hijr di sekitar bekas pemukiman kaum Tsamud, orang-orang meminta minuman dari tempat (periuk) yang dulu digunakan oleh kaum Tsamud. Mereka membuat adonan dan memasak dengan alat itu. Ketika Rasulullah mengetahui kejadian itu, beliau menyuruh mereka menumpahkan air yang ada dalam periuk-periuk itu dan memberikan adonannya kepada unta. Beliau kemudian melanjutkan perjalanan hingga sampai ke sebuah sumur yang biasa digunakan untuk memberi minum unta, Rasulullah berkata pada para sahabat –seperti tertuang dalam as-Shahihain--, “Jangan masuk ke (tempat-tempat) orang yang telah diazab ini, kecuali kalian menangis. Jika kalian tidak menangis, maka jangan masuk ke tempat mereka (karena aku khawatir) kau akan terkena azab yang telah mereka rasakan.” (HR. Bukhari Muslim)
Adapun tentang kapan masa keberadaan kaum Tsamud tidak diketahui dengan pasti. Hanya saja, yang jelas mereka ada setelah kaum ‘Ad, seperti keterangan ayat di atas, sebelum tahun miladiyah (kelahiran ‘Isa) dan sebelum zaman Musa AS. Hal ini berdasarkan argumen pernyataan seorang mukmin dari keluarga Fir’aun yang mengancam kaumnya dengan azab Allah:
Dan orang yang beriman itu berkata, ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaaan kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hambanya.” (Qs.  Ghafir: 30-31)
Di antara tokoh yang menolak pendapat orientalis, yang menyatakan bahwa kabilah Tsamud berasal dari bangsa Yahudi, adalah Syaikh Abdul Wahhab an-Najjar dalam bukunya, Qishash al-Anbiya’.
Kaum Tsamud tinggal di daerah Hadramaut, yaitu daratan antara Yaman dan Syria. Sebagian menafsirkan daerah itu bernama Wadil Qura, sebagian lagi mengatakan desa Al Hijr adalah tempat tinggal kaum Tsamud.
Mereka jago banget bertani, beternak, dan membuat bangunan. Mungkin kalau sekarang namanya insinyur pertanian, peternakan, dan sipil kalee. Kaum Tsamud hidup makmur dan mewah.
            Bentuk fisik mereka juga tangguh dan kuat. Umurnya sangat panjang. Awalnya mereka membangun rumah dari pohon dan cabang-cabangnya, tapi suka keburu roboh duluan. Mereka jago memahat gunung batu menjadi bangunan yang cantik. Rumah mereka banyak berdiri di tebing-tebing pegunungan yang cantik.
            Sayangnya mereka suka foya-foya, berzina, dan berlaku zalim. Hukum yang dipakai adalah hukum rimba, siapa yang kuat, dia yang menang.           
            Mereka mencari Tuhan, namun sayangnya keliru menemukan tuhannya. Mereka membuat Tuhan dari barang-barang karya cipta sendiri. Jadilah mereka penyembah berhala.
            Waktu Nabi Shaleh as mencoba mengingatkan, mereka malah balas mencemooh. Mereka minta Nabi Shaleh menunjukkan, kayak apa sih wujud Tuhan itu. Mereka juga mengatakan kalau Nabi Shaleh itu udah gila, kena sihir, atau kesurupan.
            Karena itu Nabi Shaleh berdoa kepada Allah, mohon diberi mukjizat. Allah memerintahkan Nabi Shaleh memukulkan tangannya pada sebuah batu besar. Subhanallah... muncullah seekor unta USYARAH (UNTA YANG BERUMUR DELAPAN SAMPAI SEPULUH BULAN) yang gemuk dan bagus. Kandungan susunya juga banyak. Unta betina itu malah langsung melahirkan anaknya di situ.  Langsung deh kaumnya berdecak kagum. Bahkan seorang tokoh masyarakat bernama Jundu bin 'Amr langsung menyatakan keimanannya, saking takjubnya.
            Nabi Shaleh sudah bilang jauh-jauh hari, jangan ada yang mengganggu itu unta. Soalnya itu unta kan mukjizat dari Allah. Takutnya kalau unta itu diganggu, Allah akan murka.
            Sejak itu sang unta hidup berpindah-pindah kemana dia suka. Setiap hari ada saja orang yang mengambil susunya. Herannya, susu unta itu tetap banyak, malah nggak habis-habis.
            Unta itu dan anaknya suka minum air di telaga. Bahkan menghabiskan isi telaga itu. Ajaibnya air danau itu naik lagi dengan sendirinya. Unta itu setiap berangkat dan pulang dari danau selalu lewat jalan yang beda-beda.
Kenapa unta menjadi mukjizat nabi Shaleh?
 Unta nabi Shaleh memiliki beberapa mukjizat menakjubkan yang benar-benar menunjukkan kebenaran beliau. Unta tersebut merupakan tanda kekuasaan yang agung dan mukjizat bersinar dari sisi Allah. Letak kemukjizatan unta nabi Shaleh di antaranya:
Pertama: unta tersebut keluar dari batu besar yang nota bene adalah benda mati. Bagaimana mungkin binatang lahir dari batu?
Kedua: unta tersebut minum seluruh air minum kabilah “Ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari tertentu.” (Qs. As-Syu’ara’: 155). Seekor unta yang menghabiskan air minum satu umat merupakan suatu yang menakjubkan.
Ketiga: unta nabi Shaleh memberikan susu perah kepada seluruh kabilah menurut kadar air yang diminumnya. Ini juga merupakan suatu yang menakjubkan.
Imam ar-Razi berkata, “Ketahuilah, al-Qur’an mengindikasikan bahwa dalam unta nabi Shaleh terdapat tanda kekuasaan Allah. Adapun keterangan bahwa unta tersebut mempunyai pertanda tertentu itu tidak disebutkan. Allah berfirman: ‘Unta betina ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, jangan kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, maka kamu ditimpa siksaan yang pedih.” (Qs. Al-A’raf: 73)
Pertanda kemukjizatan ini merupakan bukti yang jelas atas kebenaran nabi Shaleh, sesuai permintaan kaum Tsamud. Mereka berjanji jika Shaleh bisa membelah batu dan mengeluarkan darinya seekor unta, maka mereka akan mengikuti dan mengimani beliau.
Ibnu Katsir menulis, “Para mufassirin menuturkan, bahwa pada suatu hari kaum Tsamud berkumpul di tempat perkumpulan. Kemudian Shaleh datang berdakwah mengajak mereka untuk menyembah Allah, mengingatkan, menyadarkan, dan memberi petuah. Tapi mereka malah berkata, “Jika engkau bisa mengeluarkan dari batu besar ini –sambil menunjuk batu tersebut—seekor unta hamil, yang mempunyai sifat ini dan itu, kami akan beriman dan membenarkanmu. Nabi Shaleh menerima janji mereka, kemudian beliau segera pergi ke mushalla, lalu shalat dan berdoa kepada Allah agar Dia memenuhi permohonan kaumnya. Allah mengabulkan doanya. Tiba-tiba batu besar itu terbuka dan keluarlah seekor unta sangat besar yang sedang hamil menurut sifat-sifat yang diinginkan. Ketika kaum Tsamud menyaksikan dengan mata kepala unta tersebut, mereka melihat suatu yang agung,  pemandangan yang aneh, kekuasaan luar biasa, argumen  yang mematikan, dan bukti yang nyata, maka sebagian mereka beriman. Sedang sebagian besar lainnya tetap dalam kekufuran, kesesatan, dan perlawanan. “Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu.” (Qs. Al-Isra’: 59).

Tapi, ada saja yang tidak suka pada unta itu. Suatu malam mereka mengadakan 'meeting' untuk membunuh unta itu. Akhirnya seorang pemuda kafir berbadan tegap, Quddar bin Salif,  diutus untuk mengeksekusi si unta.
            Sebenarnya kisah ini dimulai dari seorang laki-laki bernama Shunaim bin Harawah yang menikahi perempuan kaya raya bernama Shaduq. Namun ketika Shunaim beriman, Shaduq tetap kafir. Shaduq menyembunyikan anak-anaknya agar nggak terpengaruh bapaknya.
            Berkat bantuan paman Nabi Shaleh yang telah beriman, Shunaim bisa menemukan anak-anaknya lagi. Akibatnya Shaduq makin dendam terhadap Nabi Shaleh.
            Ia bertemu dan akhirnya bersahabat dengan Unizah binti Ghanam yang juga dendam sama Nabi Shaleh. Gara-garanya, kambing Unizah suka ngibrit kalau ketemu unta ajaib itu. Lagipula si kambing suka nggak kebagian air di telaga karena sudah disedot si unta.
            Mereka berdua sepakat membunuh unta itu. Sayangnya, biarpun diiming-imingi uang, nggak ada yang mau membunuh unta itu. Tapi saat mereka bertemu dengan Mushaddi bin Mahraj, seorang pemuda, ternyata Mushaddi menyanggupinya. Terang aja, sebenarnya si Mushaddi ini suka sama Shaduq. Jadi ini dalam rangka pedekatenya dia lah.
            Mushaddi mengajak sahabatnya yang bernama Quddar bin Salif, tokoh paling jahat di situ. Mereka mengumpulkan sembilan orang yang sama-sama benci sama Nabi Shaleh.
            Pagi harinya, unta itu muncul di dekat telaga dan langsung disambut orang-orang yang mau memerah susunya. Ketika orang-orang sudah bubar, barulah si pemuda kafir membunuh unta.
            Kesembilan orang yang benci sampai ke ubun-ubun sama Nabi Shaleh itu sebelumnya sempat berencana membunuh beliau diam-diam.
            Nabi Shaleh selalu tidur di dalam masjid yang disebut Masjid Shaleh bersama kaumnya. Waktu beliau keluar untuk menemui kaumnya, selesai Shubuh, mereka menjalankan aksinya. Alhamdulillah upaya itu berhasil dihalangi para malaikat. Para penjahat itu dilempari batu sampai terbirit-birit. Nah, baru deh mereka membunuh unta itu dengan cara dipanah. Unta itu dikenai panah tepat di lehernya. Habis itu mereka mencincang dan memakan unta itu sampai habis.
            Nabi Shaleh tentu saja marah sekali mengetahui untanya dibunuh. Si pemuda malah menantang balik, katanya gara-gara unta itu, telaga jadi butek. Alasan sebenarnya sih, yang bikin mereka itu gondok, mereka takut gara-gara 'unta ajaib' itu makin banyak saja yang beriman kepada Allah.
            Bahkan mereka menantang Nabi Shaleh untuk membuktikan azab Allah. Berani banget ya?          
            Akan halnya orang-orang beriman menangis karena takut pada azab Allah. Nabi Shaleh menyuruh mereka mencari si anak unta, sebab barangkali bisa mencegah murka Allah.
            Ternyata si anak unta sudah masuk kembali ke tempat ia dan ibunya berasal, yaitu ke dalam batu besar. Sebelumnya ia meraung dengan suara keras.
            Hari pertama dan kedua memang nggak ada kejadian apa-apa. Mereka makin merasa senang.
            Paling-paling ada tanda kecil. Hari pertama wajah mereka menjadi kekuning-kuningan. Mereka saling ledek-ledekan. Hari kedua, malah berubah jadi kemerah-merahan. Sebagian dari mereka mulai yakin kalau ini siksa dari Allah. Tapi yang masih kafir tetap keukeuh. Hingga hari ketiga wajah mereka jadi menghitam legam.
            Pada hari ketiga inilah, Allah menyempurnakan azab-Nya. Langit menjadi gelap, membuat mereka panik. Sementara Nabi Shaleh dan ummatnya yang beriman sudah duluan menyelamatkan diri.
            Orang-orang itu mulai ketakutan. Mereka membalsem tubuh dan saling menutupi dengan temannya. Mereka ramai-ramai berbaring di tanah menunggu azab.
            Mereka menemui ajalnya karena disambar petir yang sangat keras. Belum cukup sampai di situ, mereka diguncang gempa hebat dan mati di rumah mereka sendiri.
            Nggak ada yang selamat dalam bencana itu, kecuali seorang perempuan. Ia menyelamatkan diri dan kemudian minum air dari telaga. Ia kemudian meninggal kelelahan.
            Pada perang Tabuk, Rasulullah saw dan para sahabat sempat melewati bekas perkampungan kaum Tsamud. Kaum muslimin minum air dari sumur di situ. Namun Nabi melarangnya dan menyuruh mereka minum dari sumur bekas tempat unta Nabi Shaleh minum.
            Saat melewatinya Rasul dan para sahabat sempat menangis karena berharap peristiwa kaum Tsamud tidak terulang pada kaum muslim.

Ayat-ayat tentang Nabi Shaleh as:
Hud 61-63, Al Qamar 27-28, Asy Syu'araa 155-159, Al A'raaf 77-78, Hud 65, An Naml 48-72, dan Adz Dzariyaat 44.



[1] Al-Bidayah wa An-Nihayah, Jilid I, hlm. 120.